Feature

Kemajuan Industri Menyimpan Keprihatinan

Meski ini bukan pertama kali aku menyusuri Sungai Musi,  tetap saja membuat decak kagum timbul dalam benakku, seakan mata ini dimanjakan dengan sombongnya Jembatan Ampera yang membelah kota Palembang menjadi dua bagian, Hulu dan Hilir. Nelayan-nelayan kecil menghamparkan jaringnya ke sungai, kapal-kapal tongkang melintas mengangkut batubara, dan perahu atau ketek turut melewati kolong tersebut, membuat ombak sungai ini cukup kencang.

Selama menyusuri sungai terpanjang kelima di Indonesia ini, aku teringat  pada Kerajaan Sriwijaya dengan kejayaannya dapat menguasai nusantara, tentu saja tidak terlepas dari peran Sungai Musi sendiri. Pada masanya, fungsi Sungai Musi ialah sebagai tempat lalu-lalang tranportasi utama dari berbagai penjuru negeri yang datang untuk menjual dagangannya. Saat  itu, jual-beli masih menggunakan sistem barter. Jenis barang yang dijual berupa hasil perkebunan, seperti rempah-rempah, adapun kebutuhan lainnya seperti perkakas dan kain.

Ketika aku masih asyik berimajinasi, salah seorang temanku berteriak, “Kita sampai di Singapore, Guys!” Alhasil, imajinasiku bubar dan perhatianku tertuju padanya.

Ya, kita semua tahu Singapura merupakan salah satu negara industri dengan pulaunya yang kecil, banyak kapal-kapal besar bersama peti kemasnya mulai berlayar menuju berbagai negara. Sama halnya dengan kapal-kapal besar yang berlayar melewati Sungai Musi untuk melakukan perdagangan.

Namun, saat ini kita jumpai kegiatan industri telah menambah kesibukan di Sungai Musi. Ketika aku berlayar ke arah hilir, semakin terlihat jelas antrean kapal-kapal besar di dekat pabrik Pupuk Sriwijaya (Pusri). Aku melihat para pekerja bertelanjang dada memikul kandi-kandi putih untuk dipindahkan ke kapal-kapal tersebut. Hiruk-pikuk tergambar pada ombak-ombak yang menabrak kapal yang kutumpangi. Sepertinya, kegiatan industri ini memiliki peran besar sebagai ladang mencari nafkah masyarakat setempat.

Kapal yang kunaiki mulai bersandar ke tepi pulau kecil, Pulau Kemaro. Pulau ini adalah salah satu objek wisata di Sumatera Selatan yang berjarak 6 kilometer dari Jembatan Ampera. Siapa sangka, dibalik keindahan dan kekagumanku pada Pulau Kemaro, tersimpan keprihatinan masyarakat sekitar pulau ini. Pasalnya, pulau kecil ini dikelilingi pabrik-pabrik seperti Pusri, Pertamina Plaju, pabrik karet, dan lain sebagainya.

Ketika aku dan temanku menginjakkan kaki di pulau ini, kami mencium aroma tidak sedap yang berasal dari pabrik-pabrik yang mengelilinginya. Udara di sini sungguh tidak sehat, tidak ada lagi angin segar yang terasa, hanya ada polusi udara yang dihasilkan pabrik dan kapal-kapal pengepul asap.

Selesai  ber-selfie ria, aku dan temanku mampir di Pondok Burhan untuk membeli makanan, sekaligus mencari informasi tentang pabrik-pabrik tersebut. Menurut pengakuan salah satu pedagang yang tinggal di sekitar Pulau Kemaro, pabrik-pabrik itu cukup mengganggu. Terkadang tercium bau amonia. Bahkan, ketika pabrik mengalami kebocoran, ia sampai tidak bisa bernapas.

Sangat disayangkan, ketika kemajuan industri menimbulkan pencemaran udara yang merugikan kesehatan bagi warga setempat, ditambah dekat dengan objek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

Penulis: (drk)

Editor: (din)

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *