CerpenSastra

Kelinci dan Kura-Kura

Oleh Febri Saptowo

 

Cerita ini terjadi di sebuah tempat yang entah di peta mana dibuat, di tahun yang entah kalender mana telah mencetaknya, bahkan aku tidak tahu apakah manusia sudah ada di cerita ini atau belum. Karena cerita ini bukan mengisahkan tentang mamalia berkaki dua yang menebang pohon untuk bilang dunia bahaya globalisasi. Ini cuma menceritakan perseteruan yang setiap anak tahu, perseteruan abadi antara mahkluk paling lambat dan dia yang paling cepat saat itu, Kura-kura dan Kelinci.

Saat itu, seperti biasa, Kura-kura sedang berjalan menikmati pagi. Dia sudah keluar sejak pukul enam pagi, sekarang sudah hampir jam sepuluh dan dia belum sampai satu kilometer berjalan. Di perjalanan itu dia bertemu Kelinci, dengan tangan penuh sayuran hutan di tangannya, dia bisa makan selain wortel tentunya.

“Hei, sudah sejauh mana kau berjalan, Sobat?” Tanya Kelinci kepada Kura-kura.

“Apa? Kau mau mengejekku?” Jawab Kura-kura dengan ketus.

Kelinci sudah terbiasa dengan sikap Kura-kura yang seperti itu, padahal dia hanya ingin memberi semangat pada Kura-kura. Kelinci melanjutkan perjalanannya, hanya satu menit Kura-kura sudah jauh berada di belakangnya.

“Hei, kau tahu bagaimana cara agar aku bisa dekat dengan Kura-kura?” Tanya Kelinci pada seekor burung hantu yang baru saja mau tidur.

“Ah, entahlah, aku tidak terlalu dekat dengan Kura-kura, aku tidak secerdas itu, mungkin Kera yang otaknya hampir sama dengan manusia itu bisa membantumu.” Jawab si burung hantu dengan wajah yang benar-benar mengantuk, akibat begadang semalaman.

Kelinci mengangguk, dia langsung berlari dengan cepat ke tempat Kera. Jika kalian tahu dengan The Flash dari komik ciptaan manusia itu, mungkin secepat itulah Kelinci. Tidak juga, sih, The Flash pasti jauh lebih cepat, tapi kalau ada kaum binatang yang membaca komik itu, pasti mereka akan membayangkan Kelinci. Itu pun kalau ada di antara mereka yang bisa membaca tulisan manusia.

“Kau mau dekat dengan Kura-kura? Bukannya mudah? Kau tinggal tiduran di atas tempurungnya, dia tidak akan bisa mengusirmu dengan kaki-kakinya, selesai, kau sudah dekat dengan dia.” Ucap Kura-kura saat Kelinci bertanya padanya.

“Ayolah, Kera, aku tahu kau lebih pandai dari itu.” Kelinci merayu Kera.

“Ah, kau memujiku berlebihan, okelah, aku pikirkan sebentar.” Ucap Kera lalu berhenti berayun.

“Bagaimana jika kau ajak dia lomba lari, kau mengalah, dan memujinya, dengan begitu mungkin kau bisa dekat dengan dia.” Kera melontarkan idenya.

Kelinci mengangguk-angguk. Seolah paham dengan apa yang diucapkan Kera. Kelinci mendatangi tempat yang biasa didatangi Kura-kura, berniat mengajak perang.

“Sudah kuduga kau ada di sini.” Ucap Kelinci saat dia menemukan Kura-kura.

“Aku memang lambat, aku tidak akan pergi jauh.” Kura-kura menanggapi Kelinci dengan ketus lagi.

“Hahaha, kau tahu? Aku sebenarnya tidak secepat itu.” Ucap Kelinci, bersiap memancing Kura-kura untuk lomba lari.

“Tidak secepat itu? Kau mau bercanda? HAH! Aku tertawa terbahak-bahak.” Kura-kura merasa dipermainkan oleh Kelinci.

“Kau tidak percaya? Mari kubuktikan besok, kita lomba lari.” Kelinci menantang.

“Apa keuntungan untukku?”

Kelinci berpikir sejenak mendengar pertanyaan dari Kura-kura. “Aku beri semua persediaan sayurku.”

Kura-kura mengangguk setuju.

Besoknya, di sebuah setapak yang menjadi jalan utama di hutan, tempat yang jauh dari pemangsa. Kelinci dan Kura-kura sudah bersiap lomba, beberapa binatang lain menonton di pinggiran. Mereka tahu Kelinci pastilah pemenang, tapi Kelinci meminta hewan lain untuk memberi semangat kepada Kura-kura. Perlombaan dimulai.

Kelinci memulai dengan berlari cepat, jauh meninggalkan Kura-kura. Kura-kura seperti tidak mau kalah, dia berlari dengan cepat juga. Cepat? Ah, kalian tahu aku juga diminta oleh Kelinci untuk menyemangati Kura-kura. Satu menit saja jarak yang dia tempuh tidak lebih dari satu kali lompatan Kera.

Di tengah perjalanan, yang sungguh matahari saja lelah melihat perjuangan Kura-kura, Kura-kura melihat Kelinci tertidur di bawah pohon. Taktik Kelinci agar Kura-kura bisa menang.

“Ah, dia terlalu sombong.” Pikir Kura-kura. Dia langsung mempercepat lajunya, tidak terlalu merubah speedometer sebenarnya.

Sore makin keemasan, langit di sisi lain sudah gelap. Hewan-hewan mengantuk menunggu perlombaan itu.

“Sampai kapan?” Tanya salah satu dari mereka.

“Sudahlah, pasti sebentar lagi.”

“Kau sudah mengatakan itu ribuan kali.”

Tidak ada yang menduga, di ujung jalan yang mulai gelap, ada gerakan kecil terlihat. Kura-kura sudah hampir sampai.

“Cepat majukan gari finishnya, aku sudah bosan.”

Dengan sisa-sisa tenaga, harapan, dan usaha untuk mengalahkan Kelinci, Kura-kura berhasil menyentuh garis finish lebih cepat dari Kelinci. Hewan lain berteriak bangga, mengelu-elukan Kura-kura. Mengarak Kura-kura layaknya pahlawan.

Esok paginya, Kera dan Burung Hantu tidak sengaja bertemu Kura-kura. Dia sedang menulis sesuatu di batu besar. Tertulis dengan bahasa hewan, sebuah fabel yang terkenal.

Diceritakan dahulu, seekor Kelinci yang sombong karena kecepatan berlarinya menantang Kura-kura yang pelan untuk berlomba lari. Kelinci melakukan itu untuk mempermalukan Kura-kura. Di hari perlombaan, di tengah lomba, Kelinci tidur di bawah pohon. Kelinci terlalu meremehkan Kura-kura, pada akhirnya malah Kura-kura yang memenangkan perlombaan. Kura-kura rendah hati itu berhasil mengalahkan kesombongan Kelinci.

“Tunggu, bukan seperti ini kan ceritanya?” Ucap Kera bingung.

“Aku akan berkeliling dunia untuk mengisahkan hal ini, agar semua hewan tahu cerita penuh makna ini.” Kura-kura meninggalkan hutan, entah berapa juta abad dia bisa mengelilingi dunia, atau mungkin dia akan mati di tengah jalan tersedak kebanggaannya.

Kera hendak menyusul Kura-kura untuk menceritakan semuanya, tapi Burung Hantu menahannya.

“Sudahlah, bukankah setiap sejarah ditulis oleh mereka yang menang?”

 

 

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *