Artikel

Kebakaran Lahan Gambut di Indralaya, Pahami Penyebab dan Dampaknya

Lahan gambut adalah lahan yang terbentuk dari serasah, yakni sisa tanaman basah atau tergenang air yang membusuk dan terurai lambat, ketebalan lapisan dapat mencapai lebih dari 15 meter. Sebuah lahan dapat dikategorikan sebagai lahan gambut apabila kandungan bahan organik yang berada di dalam tanah melebihi 30% dan ketebalannya lebih dari 50 sentimeter.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian dan Balai Penelitian Tanah, diperkirakan ada sekitar 14,9 juta hektar lahan gambut di Indonesia. Lahan tersebut tersebar mulai dari Irian Jaya, Kalimantan, hingga Sumatera. Dari 14, 9 juta hektar luas tersebut, 6,4 juta hektar terletak di Pulau Sumatera, 4,8 juta hektar terletak di Pulau Kalimantan, dan 3,7 juta hektar di Pulau Papua.

Lahan gambut yang ada di Pulau Sumatera berada di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Di daerah Sumatera Selatan sendiri, tepatnya di Kabupaten Ogan Ilir dapat dijumpai lahan gambut di sepanjang jalan Lintas Timur Sumatera.

Pada kondisi alami, lahan gambut tidak mudah terbakar karena sifatnya yang menyerap dan menahan air secara maksimal. Lahan gambut dapat menyimpan air saat musim hujan dan melepaskan air secara perlahan saat musim kemarau. Namun, ketika keseimbangan ekologi terganggu dapat berpengaruh pada daya serap dan simpan air lahan gambut. Akibatnya, saat musim kemarau lahan gambut akan mengalami kering sampai kedalaman tertentu dan mudah terbakar, seperti yang terjadi di Indralaya, Sabtu (3/8) lalu.

Dikutip dari Mongabay, Gusti Hadriansyah, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat menuturkan, kondisi lahan gambut yang kering membuatnya sangat mudah terbakar. Selain itu, Gusti juga mengatakan bahwa gambut akan kehilangan sifat-sifat alaminya yang seperti sponge, kala hujan menyerap air dan saat panas mengeluarkan air. “Termasuk, kehilangan kemampuan untuk mengatur keluar-masuknya air. Lahan-lahan gambut yang kering secara tidak alami akan sangat mudah terbakar.”

Kebakaran yang terjadi di lahan gambut di wilayah Sumatera mencapai rata-rata 32,1% dalam dekade ini berdasarkan data World Wide Fund for Nature (WWF). Kebakaran ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya panas akibat musim kemarau. Faktor tersebut mungkin dapat dijadikan penyebab terjadinya kebakaran lahan gambut di Indralaya. Mengingat rata-rata suhu di Indralaya saat itu sekitar 33 derajat celsius. Panas ini dapat memicu timbulnya api sehingga lahan gambut yang kering dapat dengan mudah terbakar.

Selain faktor cuaca, kebakaran hutan gambut juga dapat disebabkan oleh pembukaan lahan gambut untuk pertanian. Lahan gambut memiliki material organik yang baik bagi tanaman, sehingga sangat cocok untuk dijadikan lahan pertanian. Metode pembakaran hutan dipilih oleh sebagian orang karena dapat menekan biaya dan efisiensi waktu dibanding harus menunggu tamanan yang tumbuh di atas lahan gambut mati.

Dampak yang ditimbulkan dari kebakaran ini sangat berpengaruh pada alam. Lahan gambut memiliki unsur kimia karbon yang apabila terjadi reaksi pembakaran akan menghasilkan karbon dioksida yang merupakan gas rumah kaca. Gas rumah kaca tersebut kemudian naik ke atmosfer dan terjadilah pemanasan global atau.

Penulis: Royan Dwi Saputra

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *