Resensi

Kawanan Burung Membuat Peradaban Baru

Judul: Cerita Bumi Tahun 2683

Jumlah halaman: 95

Karya: Aesna

Terbitan: Mojok

Waktu rilis: Oktober 2018

 

Buku ini menceritakan sekawanan burung yang membentuk peradaban baru. Aesna mengajak pembaca ke masa depan, tepatnya tahun 2683 didalam bukunya ia menggambarkan keadaan bumi yang amat kacau karena hutan yang menjadi sumber oksigen di babat habis oleh manusia. Hutan Afrika yang terkenal lebat kini telah rata dengan tanah dilalap api oulah manusia, demi pembangunan rumah bordil. Saat itu burung-burung tidak lebih dari lima ratus spesies. Burbur, burung  Kasumba yang dikenal sebagai ilmuan berpindah ke hutan Kalimantan. Sebenarnya hutan kalimantan pun mengalami kerusakan tetapi tidak separah hutan Afrika. Untuk melangsungkan hidupnya burung Burbur harus melawan manusia.

Kedatangan burung Pembawa Kabar sebagai pemimpin dari lima ratus burung yang tinggal dihutan Kalimantan untuk membangun hutannya sendiri. Para burung akhirnya mengangkat pohon yang kini pohonnya tidak lebih besar dari pencatut bulu ketiak, dengan sayapnya yang kuat pada masanya burung Rindang jenis burung Albatros yang dulunya sempat punah kini datang lagi karena terjadi kerusakan parah dibumi. Albatros ibaratkan malaikat yang diutus Tuhan untuk menyelamatkan kawanan burung.

Ketika kawanan burung sibuk mengakat pohon, Burbur hanya diam diranting yang daunnya hampir semuanya menguning, ia menatap langit yang tidak lagi biru seperti dulu matanya penuh kebencian dan dendam kesumat kepada manusia ditambah lagi empat temannya meninggal. Pembawa Kabar sangat khawatir segala harapan dan rancangan sebelum-sebelumnya akan gagal mengingat kondisi Burbur saat ini, pasalnya burung Kasumba itu burung yang memiliki dedikasi dan kepedulian tinggi dengan makhluk lainnya. Pembawa Kabar kemudian menghibur Burbur agar kembali keceriaanya.

Ketika langit mulai gelap kawanan burung mulai istirahat, Burbur, Rindang dan Pembawa Kabar sedang mengamati hutan itu sambil bercengkrama, namun perasaan ganjil merasuki Burbur dan Pembawa Kabar dari persekian detik sebuah peluru melesat tepat mengenai mata Rindang, darahnya mulai bercucuran. Burbur dan Pembawa Kabar kaget melihat kejadian tersebut sedangkan burung lainnya berhamburan terbang menuju langit.

Akhirnya mereka mencari pemilik peluru tanpa disangka darah Rindang kemudian merambas ketanah ibarat air dan mengeluarkan cahaya sangat terang. Rindang berubah menjadi perempuan cantik, rambutnya panjang dan berkilau. Burbur dan Pembawa Kabar tidak percaya bahwa mitos dikalangan burung memang benar ada, burbur pernah membaca buku kumpulan tentang kehidupan burung  bernyawa manusia. Sebenarnya kejadian ini sudah dua kalinya, yang pertama jenis burung Albrotus ditembak tepat dikedua matanya ribuan tahun lalu di Benua Amerika. Menurut  Burbur hanya mitos belaka karena cerita itu bermula dari mulut ke mulut tanpa adanya bukti.

Kemudian seseorang yang melesatkan peluru itu menghampiri Rindang, dan mereka saling berkenalan. Sebut saja “Peluru” si penembak Rindang. Dengan rasa gundah Rindang mengaku pada Peluru bahwa dia bukan seorang manusia, akan tetapi Peluru masih tidak percaya. Burbur dan Pembawa Berita masih memantau mereka dari atas pohon, berharap ada sebuah berita rahasia yang mereka bicarakan. Kemudian Rindang menjelaskan tentang keadaan kawanan burung yang sebentar lagi akan mati, karena ulah manusia yang lebih mementingkan pembangunan dan teknologi dibandingkan dengan keadaan alam sekitar.

Sangat disayangkan Rindang diberi obat oleh Peluru hasil rekayasa genetika agar semua perintah Peluru dapat dituruti oleh Rindang. Sedangkan kawanan burung hanya bisa diam menyaksikan Rindang menceritakan peradaban baru yang dibangun kawanan burung. Rindang sendiri tidak tahu kenapa mulutnya terus bicara meski hatinya enggan untuk bicara. Ini lah akhir dari hutan kalimantan tahun 2683 setengah dari burung-burung itu mati.

Jadi, buku ini mengajarkan pada pembaca untuk lebih simpati dan empati terhadap lingkungan sekitar. Terlebih lagi pada kelestarian hutan karena makhluk hidup yang ada di Bumi bukan hanya manusia saja, ada beberapa spesies hewan dan tumbuhan. Apa lagi kita sebagai mahasiswa diberikan wawasan yang luas, dengan begitu kita juga harus menjaga keberlangsungan ekosistem yang ada di bumi. Ayo!, mulai sekarang jaga alam disekitar kita mulai dari hal kecil saja dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak tumbuhan atau bunga yang ada didekatmu. Kalau bukan kita siapa lagi!.

 

Penulis: Dwi Ratna Kusumawati

Editor: Desi Rahma S

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *