Cerpen

Jenjam

Karya: Annisa Dwi Kurnia

Silir angin perlahan menelusuk serat jaket yang kupakai. Dinginnya menusuk tulang, kubiarkan kecewa mati dengan sendirinya.

Malam ini sorot mataku sungkan lepas dari bintang yang bergerilya mencoba menarik perhatian, dan tentu saja berhasil. Dari dalam tenda, wajahku mendongak ke bentang malam, menyaksikan entah berapa banyak kelip bintang yang selalu membuatku rindu pada sepasang manik mata yang mungkin tak dapat kutatap lagi.

Sisa hujan tadi sore melenyapkan segala isak yang bermakam di dadaku. Langit dengan ikhlas melepas mendung, mungkin karena tidak ingin aku terus-terusan berkabung.

Kehilangan ialah fase jatuh cinta paling mengerikan. Tanyakan saja pada setiap orang yang berpapasan denganmu, adakah satu di antaranya yang mendambakan kehilangan? Mungkin jawabannya nihil. Begitu pun aku, kehilangan seseorang yang amat dikasihi mampu memutar balikkan diriku menjadi sosok yang barangkali aku sendiri bingung, Entahlah. Hampa, kosong, dan tidak tahu arah.

Hari ini, harusnya aku bisa tertawa lepas, berbahagia menyambut gelar baru yang menjadi hadiah atas pengabdianku di kampus selama lebih kurang empat tahun sebagai mahasiswa.

Setelah Rektor memindahkan tali togaku, segera mungkin aku berpamitan dengan teman-teman serta keluarga yang turut hadir menyaksikan momen berharga ini, aku berharap orang yang sangat  aku cintai pun dapat melihatku lulus dengan predikat sangat baik ditambah senyum semringah yang menghiasi wajahnya, namun sayang, setelah kutelusuri setiap sudut gedung nyatanya senyum itu tidak turut hadir.

Aku memutuskan untuk segera melepaskan gundah yang melanda, mengembalikan “Aku” yang seharusnya menjadi aku. Seusai mempersiapkan berbagai logistik untuk tiga hari kedepan, segera kusandang tas punggung bermuatan besar yang siap menemaniku menapaki Gunung Dempo di Kota Pagaralam. Genta dan Alam adalah dua sahabatku yang sama sekali tidak pernah romantis, menyebalkan, namun selalu ada untukku. Kali ini mereka turut menemani pelarianku dari kecewa, gundah, juga segala rasa yang menyiksa.

Satu bulan yang lalu, tepat saat paragraf terakhir dari penutup karya ilmiah sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisku rampung. Seketika terdengar dengung panjang elektrokardiogram memenuhi ruang ICU, dimana perempuan yang paling aku cintai terkulai lemas bersama alat-alat aneh yang mungkin menyakiti sekujur tubuhnya. Sontak air mataku mengalir tanpa muara,  “Mama…….” Jeritku panjang disertai dengan isak. Saat itu, entah berapa banyak perawat yang mencoba menahan tubuhku agar tidak meronta.

Semakin larut, hawa dingin semakin erat mendekapku. Dengan helaan napas panjang, perlahan kuseka air mata yang mendera. Beberapa potongan memori masa lampau kembali menghampiriku.

Mama yang saat itu mengidap penyakit yang, ah.. maaf aku tidak sanggup untuk menyebutkannya, mulai menyerah dengan keadaan. Berbagai jenis obat telah ia konsumsi, berapa banyak terapi telah dijalani hingga membuat wajahnya yang rupawan kian menua, badannya yang semula segar bugar kian renta. Memeluknya ialah hal yang sangat aku sukai, mengajarkanku untuk selalu berdamai dengan keadaan dan seketika saja peluknya menguatkanku. Hingga pada saat mama enggan untuk mengkonsumsi obat dari dokter dan lebih memilih untuk berbaring seharian di ranjang rumah sakit, meledakkan kekhawatiranku.

“Mama nggak mau liat Aji Wisuda? Apa Mama nggak mau liat Aji nikah?” bisikku lembut dengan nada bergetar.

Sosok perempuan itu tersenyum tegar seraya meraih punggung tanganku, “Mama pengin istirahat saja, Ji. Obat itu pahit dan Mama tidak suka. Ada yang lebih menyembuhkan Mama ketimbang segala jenis obat yang ada di rumah sakit ini,” ucapnya. Aku mendongakkan kepala seraya menatap sepasang netra dimana segala kasih sayang bermuara.

“Apa?” tanyaku.

Lagi-lagi Mama tersenyum “Aji.. Kamu yang selama ini jadi obat termujarab yang pernah Mama punya. Mama yakin, Aji selalu mendoakan Mama, karena itulah semakin hari Mama merasa semakin kuat meski tanpa obat dari dokter.” Sesegera mungkin ku rengkuh tubuh perempuan yang kian lemah itu, sekuat mungkin menahan tangis di hadapan mama.

Dulu sewaktu muda, mama adalah seorang pencinta alam yang sudah berhasil menapaki beberapa puncak gunung di Nusantara. Karena beberapa faktor, termasuk penyakit yang diidapnya mama memutuskan untuk berhenti mendaki gunung namun tidak berhenti mencintai alam. “Jadi pencinta alam itu menyenangkan, selain bisa jalan-jalan dan melatih fisik, perjalanan akan membuatmu banyak bersyukur dan mengagumi betapa banyak nikmat yang Tuhan berikan, juga betapa besar ciptaan-Nya,” jelas perempuan itu padaku di suatu waktu.

Mungkin, kecintaanku terhadap alam mengalir dari garis hidup mama. Sekarang, aku juga seorang pencinta alam yang suka naik turun gunung, bahkan di fase paling terpuruk sekali pun aku memutuskan untuk tetap mendaki sebagai upaya membebaskan diri dari kesedihan. Contohnya, seperti saat ini.

Nyala petromaks kian meredup, mengetuk pikiranku untuk sadar dari lamunan yang berkepanjangan. Tidak ada satu pun kehilangan orang terkasih yang berhak untuk dirayakan, namun kehilangan juga bukan ingatan yang melulu menakutkan jika kita mampu menggurat hikmah di baliknya. Aku sayang mama, tapi Tuhan lebih menyayanginya.

Hei!

Harusnya aku bersyukur, Tuhan Maha baik karena aku masih diberi kesempatan hidup untuk mendoakan mama.

Malam semakin pekat dan dingin semakin melekat, suara dedaunan bergesekan di terpal kemah menjadi lantunan nina bobo, menghantarkanku pada lelap. Hidup kadang menyedihkan, namun lebih menyedihkan kalau aku terus diperbudak oleh kesedihan. Selamat Malam!

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close