EditorialOpini

Ingat! Kita Mahasiswa

Mahasiswa? Apa yang kita tahu tentang mahasiswa dan pendidikan?

Mungkin bagi orang awam, mahasiswa adalah seorang pemuda yang berpendidikan dan dapat melakukan semua hal. Tetapi Mori Arino, seorang arsitek pendidikan era Restorasi Meiji dari Jepang, berpendapat bahwa kegairahan dalam menuntut ilmu seharusnya mengutamakan penerapan daya guna daripada mencari kebenaran demi kebenaran itu sendiri.

Dalam pidatonya ia menjelaskan pandangannya, “Melulu mengkhotbahkan prinsip-prinsip berbagai soal dan melulu menjunjung tinggi perilaku-perilaku mulia adalah jauh dari kehidupan nyata di dunia ini. Membaca buku dan menulis esei tidaklah bermanfaat bagi tindakan nyata. Mereka yang asyik dalam melakukan hal-hal demikian itu bukanlah termasuk mereka yang saya maksudkan sebagai orang-orang yang mempunyai kecakapan.

Dalam masa persaingan dengan negara-negara asing seperti sekarang ini, orang-orang yang acuh tak acuh macam itu tidak mungkin memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendesak negara kita.” Itulah beberapa tujuan pendidikan yang pernah muncul dalam sejarah yang bisa dibuat jadi pegangan untuk merancang tujuan pendidikan di negeri ini (http://www.putra-putri-indonesia.com/)

Mungkin maksud Mori disini adalah orang yang berpendidikan bukanlah seseorang yang selalu mencari sesuatu yang benar. Tetapi seseorang yang peka akan lingkunganya serta seseorang yang cepat bertindak dan berpikir pada suatu permasalahan atau persoalan, itulah orang yang berpendidikan.

Seorang mahasiswa adalah orang yang berguna bagi orang di sekitarnya sesuai yang di harapkan masyarakat, bukan seseorang yang berpikir untuk dirinya sendiri di kemudian hari. Karena, jika seorang mahasiswa hanya memikirkan dirinya sendiri maka yang akan timbul adalah sikap keegoisan yang amat melambung. Sudah kita ketahui bahwa mahasiswa adalah seorang pemuda yang egois, dimana darah mudanya sedang meluap dan merasa yang benar hanya dia. Saya sebagai mahasiswapun merasa demikian.

Sebagai contoh, saat berdebat akan timbul sikap egois pada diri kita untuk mempertahankan argumen kita. Tetapi, egois seorang mahasiswa yang dimaksud disini adalah niat ataupun tujuan dia menjadi seorang mahasiswa. Tidak dipungkiri bahwa kuliah bertujuan untuk mendapat pekerjaan yang layak dan berpendapatan super. Jika dilihat dari sisi kehidupan kita, memang benar niat kita untuk membahagiakan orang tua, berpenghasilan baik, dan mendapat pekerjaan yang layak. Namun bagaimana jika dilihat dari fungsi mahasiswa menurut negara? Seperti kata Mori, negara butuh pemuda yang berpendidikan dan memikirkan apa yang terjadi di sekitar mereka.

Menjadi orang yang sukses dan berguna bagi bangsa serta tidak merugikan orang sekitar kita, Mungkin terlihat sangat tidak mungkin kan?

Ingat! Kita adalah mahasiswa, itulah yang mereka harapkan dari kita. Menjadi seseorang yang memikirkan orang lain dan mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi -tanpa mengabaikan kepentingan pribadi. Lebih bijaksana dalam memutuskan suatu tindakan kita dapat menjadi seorang mahasiswa yang berpikiran yang lebih baik.

Lulus dengan cepat dan dengan nilai yang sempurna adalah impian setiap mahasiswa. Namun bagaimana cara kita menempuhnya? Apakah kita harus mengabaikan orang di sekitar kita?
Di sinilah kita mencari jawabanya, di kampus kita tercinta. Banyak hal yang ada di kampus yang dapat mendidik kita menjadi seorang mahasiswa yang sesungguhnya.

Kita sadar bahwa kuliah itu tujuanya untuk belajar dan mencari ilmu pengetahuan.Tetapi untuk apa yang kita dapat itu? Apakah hanya untuk pekerjaan kita?

Alangkah baiknya jika apa yang kita dapat di bangku kuliah kita berikan kepada apa yang ada di sekitar kita, bukan hanya untuk diri kita sendiri. Disini kita dapat belajar bukan hanya ilmu pengetahuan,tetapi kita juga dapat belajar untuk saling menghargai, untuk saling memahami dan banyak pengetahuan lain yang tidak ada di buku ataupun di sebuah artikel. Apakah itu bisa kita dapat dengan hanya membaca buku dan mengerjakan tugas kuliah dan pulang kerumah? Tentu tidak , hal nyata seperti itu tidak akan pernah kita mengerti kalau kita tidak mengalaminya.

Sudah banyak Mahasiswa yang hanya menganggap kalau kampus itu hanya tempat untuk belajar dan mengumpul tugas, itu tidaklah salah. Namun, bagaimana mahasiswa dapat berpikir lebih nyata jika kegiatanya hanya seperti itu, dan banyak mahasiswa yang ditanya soal apa yang terjadi di sekitarnya dia tidak tahu. Apakah sikap mahasiwa seperti itu yang diinginkan ?

Mari bersama-sama berpikir bahwa kita bukanlah mahluk sosial yang berpikir individual tetapi kita mahluk sosial yang berpikir sosial. Sikap acuh tak acuh, serta tidak peduli dengan lingkunganya sudah banyak terlihat pada diri mahasiswa jaman sekarang. Dimana mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar mereka dan tidak ingin memikirkan lingkungan di sekitar mereka.

Mahasiswa sekarang hanya memikirkan dirinya sendiri dan sukses untuk dirinya sendiri, padahal di pundaknya terdapat cita-cita bangsa negara serta harapan orang tuanya. Apakah kita sudah menyadari hal tersebut? Siklus hidup di dunia ini terus berputar dan tidak menutup kemungkinan kita yang sekarang ini belajar di bangku kuliah akan menjadi seorang pemimpin. Apakah seorang pemimpin itu hanya melihat suatu masalah dari satu sisi yang ia ketahui? Kita tidak hanya memimpin suatu perusahaan ataupun meminpin suatu negara, yang pasti kita harus memimpin diri kita sendiri ataupun orang di sekitar kita. Hal tersebut tidak bisa dilakukan kalau hanya berpatokan pada buku tanpa mengerti apa yang terjadi di sekitar kita. Dan bayangkan jika seluruh Mahasiswa yang suatu saat akan menjadi pemimpin dan hanya memikirkan dirinya sendiri.

Menjadi Mahasiswa yang memiliki egoisme yang tinggi bukanlah hal yang buruk. Pola pikir, lingkungan, tujuan, tempat bergaul dan cara pandang kitalah yang menentukan keegoisan kita menuju ranah yang baik ataupun menjadikan kita orang yang berpikir individualistik dan mengabaikan orang di sekitar kita. Jadilah mahasiswa yang berpikkir “Setelah lulus menjadi orang yang berguna, bukan hanya berpenghasilan besar.”

Jangan sampai kita terjebak pada masa kehancuran dimana para pemuda khususnya mahasiswa terhanyut akan ilusi reformasi. Negeri ini sebenarnya belum sepenuhnya merdeka, banyak hal yang seharusnya dapat dilakukan oleh para pemuda negeri ini, bukan hanya berdemo di jalanan tetapi bukti nyata dengan apa yang ia dapatkan di dunia perkuliahan.

Nyatanya banyak sarjana di negeri ini yang bingung setelah kelulusannya, padahal banyak sekali hal yang bisa ia lakukan. Negeri ini surganya sumber daya alam, mengapa para sarjana masih bingung mengolahnya dan lebih memilih bekerja di perusahaan asing? Apa yang salah dengan pola pikir pemuda jaman sekarang? Apakah karena terlena dengan kenyamanan yang ia dapat? Padahal di balik rasa nyaman itu ada bom waktu yang siap meledak.

Semakin hari perekonomian semakin menurun dan banyaknya pengangguran membuat tingkat kriminialitas semakin tinggi. Siapa yang dapat merubah hal tersebut? Apakah orang tua yang duduk di Istana Merdeka? Jelas bukan. Jawabannya adalah kita, para pemuda yang siap menopang negeri ini di kemudian hari.

penulis: Dimas Ari Yoga
tulisan termuat dalam majalah gelora sriwijaya edisi 4

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!