EditorialOpini

Indonesia, Surga Peredaran Narkoba

Bukan lautan hanya kolam susu..

Kail dan jala cukup menghidupimu..

Tiada badai tiada topan kau temui..

Ikan dan udang menghampiri dirimu..

Orang bilang tanah kita tanah surga..

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman..

 

“Tekk”, Ku tekan tombol nonaktif di radio kesayanganku. Zaman sekarang memang tidak banyak lagi orang yang suka mendengarkan radio, namun bagiku radio adalah sebuah pembelajaran. Belajar untuk sabar menanti request atau lagu favoritku diputar. Dan yang kedua adalah belajar mencintai tanpa memandang fisik. Dari radio, kita hanya mendengarkan suara dari sang penyiar. Tanpa tahu wujud aslinya nya.

 

“Nduk ini cuciannya udah selesai, buruan dijemur.” Perintah ibu dari dapur menembus tempat bersemayamku di kamar. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, segera kulakukan perintahnya dengan meninggalkan susu hangat  yang siap diseruput sedari tadi.

 

Tidak butuh waktu lama, semua pakaian telah mejeng di tali jemuran. Aku kembali ke kamar, menemui segelas susu hangat yang sepertinya tidak hangat lagi. Sambil menyeruput susu, ekor mataku menangkap hal yang ganjal. Sebuah lembaran putih melayang-layang. Sontak aku mengarahkan pandangan pada lembaran itu. Huh.. hanya lembar kalender bertuliskan 26 Juni.

 

Pikiranku melayang, bertanya ada apa dengan 26 Juni. Sebentar, biarkan aku menyelami memori untuk memecahkan misterinya. Oh ya! Aku teringat sosialisasi dari Badan Narkotika Nasional (BNN) di SMA ku beberapa tahun lalu. Mengenai hari anti narkoba sedunia.

 

Setiap tanggal 26 Juni diperingati sebagai hari anti narkoba sedunia. Peringatan ini merupakan bentuk keprihatinan dunia terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Serta presekursor  narkoba yang berdampak buruk terhadap kesehatan, perkembangan sosial ekonomi, serta keamanan dan kedamaian dunia.

 

Narkoba tentu sangat berbahaya bagi dunia. Secara nyata dapat memicu berbagai macam kejahatan seperti pencurian, pemerkosaan, bahkan pembunuhan. Berdasarkan data yang kudapat dari Departemen Kesehatan Indonesia, penyalahgunaan narkoba menyebabkan sekitar 190.000 orang di dunia mati sia-sia setiap tahun. Yang lebih mengerikan, aku membaca tulisan tentang perdagangan dan peredaran narkoba disinyalir menjadi salah satu sumber pendapatan untuk mendukung operasi tindakan terorisme.

 

Aku menghela nafas panjang, kembali menyeruput susu yang masih tersisa di dalam gelas. Sejenak lirik lagu kolam susu dari Koes Plus yang aku dengar tadi mampir di kepalaku. Liriknya memang begitu indah, seakan menggambarkan betapa menyenangkan tinggal di Indonesia yang katanya “Tanah Surga”. Bicara mengenai surga, berbagai berita mengenai penyelundupan narkoba ke Indonesia membuatku bertanya. Apakah Indonesia menjadi surga  peredaran narkoba?.

 

Dilihat dari berbagai kasus penyelundupan narkoba, mulai dari beberapa gram hingga berton-ton banyaknya. Diselundupkan melalui kapal, dalam boneka, kemasan makanan, bahkan di pakaian dalam. Seribu satu cara untuk melindungi perjalanan barang haram itu menuju tanah surga Imdonesia.

 

Mengapa Indonesia begitu mempesona di mata para pengedar narkoba pikirku.

 

Kepala Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulistiandriatmoko, dalam sebuah tulisan di salah satu portal berita mengatakan bahwa, setidaknya ada tiga alasan mengapa Indonesia dijadikan surga peredaran narkoba oleh sindikat internasional.

 

Pertama, Begitu luar biasanya permintaan narkoba di Indonesia. Para Bandar dan sindikat jaringan narkoba internasional biasanya memiliki perhitungan bahwa berapapun produksi yang mereka hasilkan akan ludes jika dipasarkan di Indonesia.

 

Kedua, letak geografis turut menjadi faktor permasalahan ini. Garis pantai Indonesia sangat panjang. Hampir mustahil dilindungi pengawasannya dengan sarana dan prasarana serta jumlah personel saat ini. Beliau mencontohkan, garis pantai di timur pulau sumatera kerap dijadikan transit pengiriman narkoba. Umumnya barang penyebab kematian sia-sia tersebut masuk dari Malaysia dan diselundupkan melalui pantai timur Sumatera.

 

Alasan terakhir, harus diakui bahwa penegakan hukum terhadap bandar dan jaringan narkoba masih sempoyongan. Karenanya, tidak heran jika para pelaku di level bandar sudah memperhitungkan celah mana yang bisa disusupi dan dipengaruhi agar perjalanan barang haram ini tetap lancar. Meski aktornya sedang menginap di hotel prodeo.

 

Sebagai generasi bangsa yang menginkan hidup di tanah surga dengan bahagia tanpa siksa, aku merasa sedih dengan hadirnya narkoba yang mencabik-cabik masa depan bangsa. Siapa yang harus disalahkan? .

 

“Nduk pakaiannya tadi udah pada dijemur belum?”,  Suara Ibu membuyarkan lamunanku.

“Wis rampung bu e” Balasku dari dalam kamar.

 

Sebagai anak bangsa, aku berharap masalah narkoba ini tidak sama dengan jemuran di luar sana. Digantung tanpa ada kepastian. Peredaran narkoba bukan masalah yang bisa dianggap enteng. Barang haram ini menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan hidup umat manusia, maka dari itu harus ada aturan yang tegas serta kemauan yang keras untuk membumihanguskan benda tak bernyawa namun mampu menghilangkan nyawa ini.

 

Penulis : Annisa Dwi Kurnia

Editor : Relia Ariany

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *