ArtikelOpini

Hari Raya Nyepi di Indonesia

Apa itu Hari Raya Nyepi?

Hari Raya Nyepi adalah perayaan tahun baru bagi umat Hindu berdasarkan kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Nyepi  berasal dari kata “sepi”, yang artinya sunyi, lengang, tidak ada kegiatan. Pada hari raya ini, tidak ada aktivitas seperti biasa, semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, kecuali rumah sakit. Di tahun ini, Hari Raya Nyepi jatuh pada tanggal 7 Maret.

Sejarah Nyepi

Sebelum abad Masehi hingga awal abad Masehi, India dan sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan. Pertikaian antar suku-suku bangsa: Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya, menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama di negeri tersebut. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa tertentu, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Dari pertikaian yang amat panjang, pada akhirnya yang menjadi pemenangnya adalah Suku Saka di bawah pimpinan Raja Kaniskha I, yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (Caitramasa) tahun 1 Saka, pada Maret tahun 78 Masehi. Sejak diraihnya kemenangan tersebut, diperingatilah sebagai hari  pergantian tarikh saka,  hari di mana telah  berhasilnya  kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dan terpecah-belah dengan paham keagamaan berbeda.

Oleh karena itu, peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebarluaskan ke seluruh daratan India dan Asia lainnya, bahkan sampai ke Indonesia.

Penetapan Hari Raya Nyepi di Indonesia

Dahulu, sebelum tahun 1973, umat Hindu Indonesia merayakan Nyepi secara sendiri-sendiri di berbagai wilayah. Ini membuat perayaan Nyepi menjadi berbeda-beda. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) bersama Pemerintah Daerah Bali menetapkan Nyepi dilaksanakan serentak di seluruh Bali. Tujuannya selain untuk keseragaman, juga untuk memudahkan pengawasan serta menghindari terjadi kesalahpahaman.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pemahaman, masyarakat akhirnya  menerima perayaan Nyepi secara serentak diseluruh desa di Bali. Sepuluh tahun setelah Nyepi secara setentak dilaksanakan di Bali, Pemerintah Pusat menetapkan hari raya Nyepi sebagai hari libur nasional. Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 3 tahun 1983 tertanggal 19 Januari 1983 ditetapkan Hari Raya Nyepi sebagai hari libur nasional. (balisaja.com)

Penulis: Fatmawati

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *