PuisiSastra

Hari Haru

Hari Haru

Waktu terus berjalan mengikuti arah jarum jam, melangkah beriringan bersama detik yang terus berdetak tanpa jeda.

Fajar menyingsing, ayam jantan berkokok.
Sejuknya embun perlahan lebur ketika di sapa mentari pagi.
Kemudian datang siang. Terik ataupun hujan sama saja, sebab sore pasti tiba.
Setelah sore beranjak, malam berhias kelip bintang memeluk mimpi-mimpi. Kemudian hari berganti. Lagi.

Hingga pada suatu masa, jarum jam berhenti berdetak. Kehabisan daya.
Sementara waktu begitu keras kepala tak mau menunggu.
Ia terus saja melangkah pergi, tanpa hendak peduli pada jam yang selama ini membuat keberadaannya dicari-cari.

Dengan tergopoh-gopoh hari mengejar laju waktu, lantang berteriak “Tunggu!” Tapi waktu tak hiraukan seruan itu.

Bersimpuhlah hari pada langit yang tertutup awan kelabu, mengadu betapa egoisnya sang waktu.

Kemudian kilat menyambar, diikuti suara petir yang menggelegar.

Jagat raya berubah sendu,
Waktu terbujur kaku di hadapan hari yang tertunduk lesu.

Waktu telah mati,
Jam dan hari tiada lagi berarti
Tersisa hanya Haru yang tiada bertepi

Penulis : Safina Riski

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close