ArtikelOpini

Guruku, Pahlawanku

25 November 2018 diperingati sebagai hari guru nasional, sekaligus sebagai pertanda terbentuknya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Penetapan hari guru ini melewati fase yang cukup rumit.

Indonesia yang saat itu tengah dijajah oleh Belanda dan Jepang mengalami pasang surut dalam pergerakannya di bidang pendidikan. Walaupun sebenarnya, pada tanggal 25 November 1945, PGRI telah terbentuk dan juga ditetapkan sebagai hari guru, pernyataan tersebut belum didukung oleh keputusan resmi dari pemerintah. Hingga tahun 1994, hari guru resmi diperingati melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.

Meski termasuk dalam agenda nasional, hari guru tidak dijadikan sebagai hari libur nasional sebagaimana hari-hari besar lainnya. Maka dari itu, untuk merayakan hari tersebut, biasanya di tiap sekolah sering diadakan upacara ataupun kegiatan perlombaan demi memeriahkan hari dimana kita setidaknya harus menghargai jasa para guru yang telah mendidik kita. Ada baiknya bukan hanya sehari itu saja, tapi perlu kita renungkan dan hormati pula peran dari para guru yang telah berdedikasi sebagai pengajar yang senantiasa mengajar kita dengan sepenuh hati.

Guru ada banyak jenisnya. Seperti guru mengaji, guru sekolah, mulai dari tingkat PAUD hingga SMA, dosen, dan orangtua pun merupakan seorang guru bagi anak-anaknya.

Ya, orang tua. Ibu saya sendiri merupakan seorang guru. Ia bukan hanya seorang guru PAUD saja, melainkan juga berpengalaman menjadi guru SD hingga SMA, bahkan menjadi guru les pun sudah pernah digelutinya selama berkarir dengan titel seorang guru. “Ibuku, pahlawanku”, adalah kalimat yang sesuai untuk menggambarkan kehebatan seorang ibu saya, yang tidak hanya mengemban tugas mendidik anaknya sendiri, tetapi juga berperan sebagai seorang guru yang memiliki tugas jauh lebih besar dalam mendidik anak muridnya.

Gaji tidak menjadi tolak ukur dalam menebarkan pengetahuan yang dimilikinya. Upaya untuk membuat sistem mengajar yang lebih baik lagi merupakan cita-citanya sebagai seorang guru, terutama pada anak-anak PAUD, dimana pengembangan afektif dan kognitif menjadi hal paling dasar yang benar-benar harus diperhatikan.

Seperti peribahasa, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, merupakan gambaran dari apa yang ibu saya lakukan. Tak berbeda jauh dengan apa yang ayahnya lakukan, yaitu kakek saya. Selain memiliki ketertarikan pada bidang perkebunan, lelaki yang akrab disapa Kakek Ali itu juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang guru SMA. Tak cukup hanya mendidik anaknya di rumah, di sekolah pun beliau juga berperan sebagai guru atau tenaga pengajar bagi anak-anaknya. Bahkan, hingga saya menempuh pendidikan di sekolah yang sama dengan tempat kakek saya mengajar, peran dan jasa dari kakek saya selalu dikenang dan diingat oleh para murid dan rekan pengajar lainnya.

Berperan sebagai seorang guru bukanlah perkara mudah, ada banyak tugas yang harus dilaksanakan. Mendidik bukan hanya sekedar memberikan materi mengajar, tugas rumah, dan ujian. Mendidik bukan hanya sekedar untuk mencerdaskan anak bangsa lewat prestasi akademik saja. Sikap, akhlak, dan perilaku termasuk kedalam paket tugas yang harus dijalankan oleh seorang guru. Oleh karenanya, sebagai siswa dan mahasiswa, hormati dan pahamilah beban berat yang dipikul oleh guru atau dosen kita, perlakukan dengan baik dan sopan karena mereka merupakan orang tua kita dalam lingkungan pendidikan.

Penulis: Fury Aura Bahri

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *