Opini

Fenomena Mahasiswa Bertransformasi Menjadi Pelacur Politik

Istilah “pelacur politik” mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian orang. Pasalnya, sebutan pelacur identik dengan mereka yang rela memuaskan nafsu orang lain demi mendapatkan imbalan uang atau barang lainnya. Tentu saja hal tersebut sangat bertolak belakang dengan mahasiswa yang katanya kaum terpelajar. Kaum yang semua pemikiran dan tindakannya didasarkan atas fakta, teori dan disertai dengan analisis argumentasi.

Dewasa ini, berbagai fenomena politik terus bermunculan seiring bertambahnya pula kebutuhan. Tak jarang, bila mahasiswa yang digadang-gadang akan menjadi penerus bangsa dan harapan bagi orang-orang yang jarang mendapatkan kesejahteraan, mulai terang-terangan menampakkan dirinya sebagai pelacur politik di tengah masyarakat. Lebih parahnya lagi, mereka sampai membawa embel-embel kampus tempatnya menimba ilmu.

Memang tidak ada salahnya bila mereka memilih jalan tersebut. Karena euforia dari perpolitikan di negeri ini sudah menjadi hak setiap warga negara. Dimana setiap orang berhak untuk memilih atau mendukung pilihannya tanpa dikekang sedikit pun. Ditambah lagi, partisipasi seluruh rakyat dalam memilih sangatlah menentukan kualitas wakil rakyat maupun pemimpin yang terpilih.

Akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwasanya pemahaman makna mengenai perpolitikan jangan sampai salah kaprah. Kebanyakan mahasiswa yang dengan tega mencatut nama kampus, menganggap politik sebagai kompetisi, dan memilih berdasarkan emosional hanya demi sebuah kepentingan belaka. Kepentingan untuk memperoleh yang diingkan baik untuk dirinya pribadi maupun organisasi tempatnya menempah diri selama menempuh dunia perkuliahan. Tak ayal, bila seringnya seliweran dipendengaran bahwa adanya politik praktis di kampus dan terdapat organisasi kampus yang ditunggangi oleh kepentingan politik, sehingga terkesan seperti kacung para elit politik saja.

Mahasiswa yang semasa di dunia kampus, telah dihadapkan pada semangat pemuda dalam menuntut ilmu dan memupuk talenta yang dimilik melalui kegiatan organisasi. Sudah seyogyanya mengandalkan akal pikiran yang rasional dalam memilih dengan meninjau kapabilitas, integritas, dan profesionalitas wakil rakyat yang di pilihnya. Dengan tujuan mengendalikan dunia perpolitikan dari kekejaman penguasa dan mendorong tercapainya keadilan untuk semuanya. Bukan malah bangga mendukung junjungan politiknya sembari membawa atribut kampus. Apalagi perbuatan yang menyalahi aturan tersebut pun akan menjerumuskan banyak masyarakat pada kebingungan.

Bagaimana tidak? Sedari dulu hingga saat ini masyarakat mungkin saja masih menaruh secercah kepercayaannya kepada pemuda kampus. Pemuda kampus yang membawa masyarakat pada ketenangan dalam memilih, menjadi pelopor penengah dalam politik, dan memberikan pandangan netralnya. Tapi, kepercayaan itu sirna seiring hadirnya pelacur politik yang hanya sibuk memperjuangkan kepentingannya, telah memecah belah kesatuan bangsa dan mengadakan berbagai pertentangan yang seharusnya tidak ada. Mereka sibuk menjajakan diri untuk membantu junjungannya menyebarkan ujaran kebencian pada kompetitornya dan melakukan segala hal untuk melayani elit politik pilihannya.

Apakah seperti itu laku mahasiswa? Apakah itu yang dipelajari mahasiswa selama di kampus?
Rasanya tidak, ya? Sejatinya ajaran yang diberikan tenaga pendidik di kampus tidak pada hal keburukan. Organisasi yang ranah-nya eksekutif dan legislatif serta lainnya pun rasanya tak mengkader anggotanya pada hal-hal seperti. Ya, di kampus memang ada pemilihan raya untuk memilih presiden mahasiswa, gubernur mahasiswa dan lain-lain. Namun, segala perpolitikan yang diperoleh di kampus semestinya digunakan sebagai bekal menelaah perpolitikan sebenarnya.

Di balik munculnya fenomena pelacur politik yang mengikut sertakan atribut kampusnya. Nyala optimisme akan mahasiswa yang menahan diri tak terjerumus pada hal buruk tersebut, masih tetap ada. Mahasiswa yang rela belajar dengan sepenuh hati untuk kemajuan negara di masa mendatang. Bukan berarti mereka apatis dan anti politik, hanya saja mereka membentengi dari gemerlapnya kepentingan pragmatis.

Kepada kalian teman-teman mahasiswa yang masih lurus di jalannya, semoga dikuatkan kakimu menulusuri jalan yang memang banyak rintangannya. Tapi, di depan sudah menanti begitu banyak harapan mulia. Untuk kalian mahasiswa bermental pelacur, segera sadarlah dan jangan terlalu terbuai akan lampu yang kemudian hari akan hilang terangnya.

Penulis: Juniancandra Adi Praha

Editor: Desi Rahma Sari

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!