Feature

Febby, Penyintas Ledakan Bom JW Marriot

Suara gemuruh tepuk tangan bersahutan memenuhi ruang talkshow malam itu. Lelaki berumur lebih kurang 41 tahun, bertubuh gempal, berkulit sawo matang, dengan perawakan cukup tegap berjalan menuju panggung. Musik pengiring mengantarkan lelaki berkaos hijau dengan kerah di lehernya itu, untuk menyapa segenap sorot mata yang memperhatikannya.

Ia bernama Febby Firmansyah Isran. Salah satu penyintas ledakan bom di Hotel JW Marriot, Jakarta tahun 2003 silam. Akibat ledakan bom tersebut Febby harus mendapati luka bakar hingga 45% ditubuhnya. Febby duduk di kursi yang telah disediakan di atas panggung, ditemani moderator yang akan mengatur jalannya talkshow. Dengan tenang Feby menceritakan bagaimana kejadian yang ia alami.

Saat itu pukul 12.35, Febby dan rekan kerjanya berniat untuk santap siang bersama. Belum sempat ia duduk tepat pada pukul 12.40 bom yang dikelilingi dengan Sembilan dirijen bensin itu meledakkan dirinya dengan penuh amarah. Saat itu Febby dalam keadaan sadar, suasana berubah menjadi gelap gulita, teriakan penuh ketakutan menggema dari setiap sisi, dan bau belerang menyengat seisi ruangan.

Tepat di hari bom itu meledak, Febby baru saja menyebarkan surat undangan pernikahannya yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Keluarga dan calon istrinya merasa shock dan tidak percaya akan kejadian tersebut. Kaget dan terpukul, itulah yang dirasakan Febby pasca kejadian tersebut. Gagal menikah menjadi hantu bagi pikirannya saat itu. Untuk memulihkan lukanya, ia harus menjalani perawatan selama kurang lebih empat bulan. Dalam kesendirian, dia merasa sangat terpuruk, terluka, dendam dan marah terhadap para pelaku tindakan terorisme.

Rupanya perasaan itu membuat dirinya semakin lemah dan memburuk. Febby kemudian pasrah dengan keadaan dan ternyata sang calon istri tetap mau melaksanakan pernikahan meski harus diundur selama proses penyembuhannya. Bahkan, Sebelum ia sembuh calon istri tetap mendampinginya, hal itu membuatnya menjadi lebih kuat dan menghargai hidup sang calon istri memberi kekuatan untuk meyakinkan dirinya agar berani memaafkan para pelaku teror, “Itu kemudian membuat proses penyembuhan saya langsung meningkat. Apa yang saya alami tidak ada apa-apanya ketika kita saling mencintai sesama,” ungkapnya.

Meskipun sedih dan stres sempat melanda melihat kenyataan bahwa fisiknya tidak seperti dulu lagi, namun Febby berpikir sangat beruntung karena masih diberikan kepercayaan untuk melanjutkan hidupnya. Lelaki ini meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak tuhan dan pasti akan ada hikmah dibaliknya, termasuk menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama manusia.

Setelah keluar dari rumah sakit, Febby bergabung dalam ASKOBI (Asosiasi Korban Bom Indonesia). Beberapa tahun kemudian, ia diundang hadir dalam acara SAVE (Summit Against Violance Extremism) di Dublin, Republik Irlandia. Ketika hadir dalam acara tersebut, luka di tubuh Febby belum sepenuhnya pulih, bekas lukanya masih tampak di wajah akibat ledakan bom.

Dalam acara itulah untuk pertama kalinya, Febby bertemu dengan Ali Fauzi selaku adik kandung dari Amrozi yang sudah dieksekusi mati dan Ali Imron terpidana penjara seumur hidup dalam kasus pidana bom Bali 2002 lalu. Bom yang mengenai Febby, merupakan rakitan salah satu murid Ali. Febby mengaku pertemuannya dengan Ali sempat membangkitkan rasa marah dan dendam. Namun, Ia kembali mengingat janjinya untuk memaafkan pelaku teror dan akhirnya memaafkan Ali. Sejak saat itu, Febby dan Ali bersahabat. Selain aktif di ASKOBI, Febby turut mengkampanyekan perdamaian untuk pencegahan tindak kekerasan dan terorisme dengan Peace Generation Indonesia.

Febby mengatakan bahwa untuk berdamai dengan diri sendiri adalah dengan cara harus bisa menerima segala kekurangan yang ada pada diri kita, dan jangan selalu melihat keatas, karena sesungguhnya kita semua hanya manusia biasa. Lelaki ini pun memilih untuk ikhlas dan memaafkan atas segala yang terjadi di hidupnya. “Jika saya membalas, maka saya pun akan mengajarkan pada anak-anak saya seperti itu. Toh, tidak akan mengembalikan kulit saya yang terbakar dan apa bedanya dengan para teroris itu? Oleh sebab itu, Harus di stop sekarang juga, dengan harapan kejadian ini tidak akan menimpa orang lain di kemudian hari,” tutupnya disusul dengan gemuruh tepuk tangan.

Penulis: Annisa Dwi Kurnia

Editor: Desi Rahma S

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *