Opini

Etiskah Mematikan Kamera saat Kuliah Daring?

Seluruh perguruan tinggi di Indonesia tengah menerapkan perkuliahan daring guna memutus rantai penyebaran virus Corona, menjaga kesehatan serta keselamatan mahasiswa dan dosen. Tak hanya dalam waktu satu atau dua bulan saja, pemberlakuan kuliah daring dilangsungkan selama satu semester berdasarkan instruksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI). Hal itu disampaikan oleh Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui konfrensi pers virtual bulan Juni lalu.

Langkah yang ditempuh dengan menerapkan perkuliahan secara daring telah merubah tatanan pembelajaran yang semulanya bertatap muka di ruang kelas, kini berpindah ke dalam sebuah aplikasi yang memerlukan akses internet. Mahasiswa hingga dosen dituntut untuk mulai beradaptasi dengan perkuliahan yang hanya dapat melihat gambar dan mendengar suara orang dari kejauhan melalui handphone maupun laptop.

Namun, acap kali mahasiswa dengan sengaja mematikan kamera saat perkuliahan berlangsung. Walaupun tak semua mahasiswa melakukannya, tapi hal tersebut kurang etis rasanya untuk dilakukan. Persoalan lemahnya sinyal menjadi alasan yang banyak diutarakan terkait dengan sengajanya mematikan kamera, sehingga mahasiswa beranggapan tak begitu memungkinkan untuk menghidupkan kamera di kala sinyal tidak kuat. Alasan ini cukup menjadi dilema untuk diperbolehkan atau tidaknya mematikan kamera saat perkuliahan daring berlangsung. Selain itu, aturan yang mewajibkan mahasiswa untuk menghidupkan kamera pun tidak pernah dikeluarkan. Hanya saja inisiatif dosen yang membuat aturan sendiri pada mata kuliahnya. Bahkan, ada pula dosen yang sama sekali tak menggubris mahasiswanya mematikan kamera.

Di samping ada atau tidaknya peraturan yang mengharuskan kamera menyala, sebagai mahasiswa sudah semestinya paham betul akan fungsi nyala kamera saat perkuliahan. Menghidupkan kamera handphone atau laptop berfungsi sebagai media bagi dosen guna mengkondusifkan dan memantau mahasiswa agar tetap mengikuti jalannya perkuliahan. Sebab, kebanyakan mahasiswa begitu menggampangkan perkuliahan daring hanya dengan sekadar mengisi daftar hadir dan menunggu tugas. Padahal, ilmu yang disampaikan oleh dosen jauh lebih penting dari kedua hal itu.

Mahasiswa yang sengaja mematikan kamera tak akan luput juga dari indikasi bahwa kurangnya memperhatikan materi yang disampaikan. Jaminan gaya berpakaian rapih mahasiswa pun akan dipertanyakan. Memang seperti kurang kerjaan jika kuliah daring juga harus memperhatikan penampilan. Tapi, begitulah adanya, kuliah dari rumah sekalipun yang namanya gaya berpakaian mahasiswa harus tetap rapih seperti datang ke kampus. Karena tidak mungkin kuliah dengan gaya awur-awuran, pakai piyama, dan bahkan belum mandi. Alasan malas untuk mencuci baju lantaran di rumah saja kerap dilontarkan, terutama bagi mahasiswa kos-kosan

Kemudian, perkuliahan di kampus dan secara daring hanya berbeda pada letak lokasinya saja, sehingga mahasiswa tetap melakukan tatap muka seperti biasanya. Jika dengan sengaja mematikan kamera selama perkuliahan berlangsung, sama saja mahasiswa tidak menghargai dosen yang dengan senang hatinya ingin membagi ilmu. Lagi pula, tidak membuat suntuk atau letih kalau harus menatap layar handphone atau laptop selama perkuliahan. Anggap saja menyalakan kamera dan menatap layar gawai selama perkuliahan daring sebagai suatu hadiah bagi kalian yang biasanya di dalam kelas tidak memperhatikan dosen karena sibuk dengan gawai masing-masing.

Menyalakan kamera juga akan membuat dosen lebih tahu wajah-wajah cantik dan tampan mahasiswanya. Dengan begitu dosen akan lebih mampu mengenali mahasiswanya satu-persatu. Selain itu, dosen pun akan terlihat sedang benar-benar mengajar mahasiswa, bukan malah mengajari layar gelap yang suram dan tanpa suara pula. Belum lagi bila akun mahasiswa menggunakan tampilan foto yang tidaklah bagus, hanya akan menambah belenggu dosen seperti sedang berada di pameran lukisan anak TK yang baru belajar menggambar.

Jadi, sudah seharusnya mahasiswa menyalakan kamera saat perkuliahan daring. Jikalau alasan sinyal yang menjadi hambatanmu, kurang tepat bagi kalian yang tinggal di tengah kota. Bagi mahasiswa yang sedang di desa, lebih baik segera kembali ke indekos agar sinyal tak menghadangmu untuk mendapatkan materi perkuliahan. Kurang etisnya mematikan kamera, bisa diibaratkan dengan seseorang yang berbincang bersama lawan bicaranya. Sementara lawan bicara hanya sibuk dengan urusannya tanpa melihat siapa yang mengajaknya bicara. Apakah hal itu baik? Apakah maksud dari pembicaraan akan tersampaikan? Silahkan nilai sendiri ya!

Penulis: Juniancandra Adi Praha

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!