Opini

Empirisme Surga dalam Fenomena Mudik dan Diri Kita

JAKARTA, GELORASRIWIJAYA.CO – Ditiap penghujung Ramadhan, umat Islam di Indonesia memiliki satu tradisi yang menarik. Tiap satu kali dalam setahun, masyarakat dari berbagai daerah yang bekerja, sedang belajar atau keperluan lainnya, berbondong-bondong kembali ke kampung halaman untuk bertemu dengan keluarga. Atau sekedar menikmati suasana masa kecil yang membesarkannya.

Fenomena yang patut kita syukuri. Di negeri damai seperti Indonesia, kita masih bisa kembali ke kampung halaman dan bersua dengan kerabat. Sementara di belahan dunia lain seperti di Suriah, ada jutaan pengungsi yang belum mampu untuk kembali ke negara asal karena perang sedang berkecamuk. Di palestina pun masih berkecamuk aksi The Great Return March yang menuntut warganya agar dapat kembali ke tanah air.

Secara harfiah, alasan yang memicu terjadinya gelombang kepulangan besar tersebut bukanlah alasan yang sama seperti ketika seseorang merantau. Biasannya cenderung kepada rasa rindu terhadap tempat yang kita sebut sebagai rumah. Sekedar bereuni dari kenyataan hidup yang pahit, kalau kata All Time Low dalam lagu Under A Paper Moon “cause real life just isn’t right”.

Dalam fenomena mudik, manusia didorong oleh suatu kecenderungan dalam hatinya untuk kembali ke kampung halaman yang ia anggap memiliki cerita kehidupan yang lebih indah. Ketika mendengar lagu lama pun kita akan terkenang masa-masa dimana kita sering mendengar lagu itu di masa lalu.

Dari masa kecil hingga sekarang, mungkin kita telah mencapai apa yang dulu di cita-citakan. Terkadang hal yang kita idam-idamkan malah membawa kita menjadi asing pada diri sendiri, Maka pulang ke kampung halaman untuk menikmati semua keindahan di masa lalu adalah sebuah obat semua kelelahan kita terhadap proses kehidupan. Kita mencari sumber keamanan, kehangatan, tawa, dan kebahagiaan yang telah kita rindukan.

Mudik merupakan fenomena yang menarik untuk direnungkan. Bukan sekedar melihat bahwa mudik di tahun ini macet atau tidak, adu spanduk atau adu klakson, dan saling mengklaim pembangunan jalan tol. Dibalik itu, ada yang lebih perlu untuk kita pikirkan. Yaitu bagaimana menjadikan mudik sebagai penyegar dari segala kebuntuan kita di perantauan. Dan pemanis dari segala kepahitan hidup. Agar mudik menjadi lebih bermakna, dan bermanfaat saat kita kembali kepada kenyataan hidup yang sebenarnya.

Penulis : Ramah Walas
Editor : Relia Ariany

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!