BeritaNews

Dirut BPJS Kesehatan: Kita Harus Berani Beri Sanksi pada Penunggak

PALEMBANG, GELORA SRIWIAYA.CO – Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Fachmi Idris memberi tanggapan terkait masalah defisitnya pelaksanaan program JKN saat menghadiri acara Seminar Nasional yang bertajuk “Peran dan Dukungan Lintas Sektoral dalam Pembangunan Kesehatan Nasional Menuju Universal Health Coverage (UHC). Seminar ini diselengarakan oleh Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (IKA FKM) Unsri bertempat di Hotel Wyndham Palembang, Sabtu, (17/11).

Salah satu penyebab defisitnya BPJS yakni minimnya iuran dana yang diberikan oleh masyarakat penerima manfaat. Adapun data dari Kementerian Keuangan per akhir Oktober 2018, defisit BPJS Kesehatan mencapai Rp. 7,95 triliun. “Masalah defisit adalah masalah serius. Kedepannya kalau kita mau lebih baik lagi kita harus berani memberikan sanksi kepada masyarakat yang menunggak, masalahnya masyarakat kita siap atau tidak kalau diberikan sanksi,” tutur Fachmi.

Sementara dalam sesi seminar tersebut, Asisten 3 gubernur bidang Administrasi dan Umum Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel), Edwar Juliartha menyatakan Pemprov Sumsel turut mendukung penuh terwujudnya UHC dan menjamin akses kesehatan masyarakat yang berkualitas.

“Kita akan menjamin akses masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan berkualitas, melalui revitalisasi sarana dan tenaga kesehatan, lalu memfasilitasi dokter keluaga mandiri, dan membangun pola masyarakat hidup sehat secara partisipatif,” ungkap dia.

Edwar memambahkan bahwa pada tahun 2019 pemprov akan membiayai 10% penduduk Sumsel yang belum mempunyai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Diselenggarakannya seminar nasional ini menurut Ketua Pelaksana, Mardiana, agar dapat mengedukasi serta dapat menyongsong implementasi UHC. “Tujuannya memberi pemahaman masyarakat akan pentingnya memiliki jaminan kesehatan dan hidup sehat, serta mengatasi bias informasi, agar kita siap menyongsong UHC,” ujarnya.

Mardiana juga berharap output dari seminar nasional ini agar dapat meningkatkan lagi pelayanan kesehatan. “Harapannya semua layanan kesehatan dengan adanya seminar ini dapat tahu apa saja kendala mereka dan memperbaiki kekurangan, sehingga dapat meningkatkan lagi pelayanannya dan tidak terjadi lagi diskriminasi dalam pelayanan kesehatan,” tutup dia.

Adapun tamu yang turut hadir adalah Rektor Unsri, serta ada 32 ahli profesi, salah satunya adalah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sedangkan pesertanya adalah kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.

Penulis: Voa

Editor: Ire

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!