EditorialOpini

Dilema Kebijakan Kuliah 5 Tahun

Persoalan mengenai kebijakan kuliah lima tahun saat ini menjadi perbincangan yang hangat. Sebab, bagi mahasiswa program sarjana angkatan 2014 Universitas Sriwijaya (Unsri), semester ini menjadi waktu terakhir mereka untuk dapat menyelesaikan studinya. Sebelum akhirnya meninggalkan almamater kuning kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan ini.

Kebijakan mengenai kuliah lima tahun ini memang diterapkan pertama kali pada mahasiswa angkatan 2014. Berbeda dari angkatan pendahulunya, yang rentang masa studinya maksimal tujuh tahun. Kebijakan ini menuai banyak pro dan kontra di kalangan mahasiswa, terutama mahasiswa angkatan 2014 yang menjadi kelinci percobaan kebijakan ini.

Berdasarkan Peraturan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, yang tertera pada Pasal 16 ayat 1 bagian d tertulis bahwa “Paling lama 7 (tujuh) tahun akademik untuk program sarjana, program diploma empat/sarjana terapan, dengan beban belajar mahasiswa paling sedikit 144 (seratus empat puluh empat) SKS”. Namun disamping itu, pada Pasal 16 ayat 3 tertulis “Perguruan tinggi dapat menetapkan masa penyelenggaran program pendidikan kurang dari batas maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat 1”. Pasal inilah yang menjadi acuan Universitas Sriwijaya (Unsri) dalam menetapkan kebijakan kuliah lima tahun.

Lantas, apa yang menyebabkan kebijakan kuliah lima tahun di Unsri menuai pro dan kontra? Bukankah jika ini diterapkan dan mahasiswa dapat lulus tepat waktu akan lebih baik dampaknya? Mengingat kebanyakan mahasiswa saat ini tidak aktif berorganisasi. Dengan begitu tidak ada kesibukan lain yang dilakukan oleh mahaiswa selain belajar. Ditambah lagi dengan beberapa fakultas yang memiliki total beban minimal 144 sks dapat ditempuh selama 3,5 tahun saja. Bagi mahasiswa yang mengikuti program pertukaran pelajar juga tidak ada yang perlu dijadikan alasan, pasalnya, program pertukaran pelajar juga hampir memiliki mata kuliah yang sama, walau dalam penamaannya saja yang berbeda. Sehingga saat nanti kembali dari program pertukaran pelajar, mahaiswa tidak harus mengulang mata kuliah.

Penyebab yang membuat kebanyakan mahasiswa dilema dengan kebijakan ini ialah, karena sudah tersugesti dari awal dengan kebijakan kuliah lima tahun, hingga akhirnya timbullah rasa cemas. Kecemasan inilah yang membuat sebagian mahasiswa memiliki sikap apatis, baik itu enggan berorganisasi, dan lain sebagainya. Adanya kebiasaan buruk yang menamakan dirinya sebagai aktivis kampus juga dapat menjadi alasan. Padahal, banyak mahasiswa yang aktif berorganiasi masih dapat menyelesaikan studinya dengan tepat waktu, bahkan mendapatkan predikat yang membanggakan. Seharusnya, mahasiswa yang notabene aktif berorganisasi lebih mudah untuk membagi waktu kuliah dan organisasi.

Alasan lain yang mendasari ketidaksetujuan pada kebjakan ini ialah fasilitas kampus yang kurang memadai dalam proses perkuliahan, jumlah dosen pengajar yang tidak seimbang dengan  jumlah mahasiswa, dan dipersulitnya alur penelitian yang membuat mental mahasiswa menciut. Perbedaan tingkat kesulitan fakultas juga dirasa menjadi penyebab timbulnya kontra pada kebijakan ini, karena ada beberapa fakultas mengharuskan adanya praktikum, sedangkan ada beberapa fakultas  yang “terlihat” santai dalam hal perkuliahan. Tetapi, seharusnya tingkat kesulitan fakultas tidak bisa dijadikan alasan. Ketika kita sudah memilih jurusan tersebut, berarti kita sudah siap dengan segalanya.

Tercatat sampai saat ini sekitar 1.500 mahasiwa program sarjana angkatan 2014 yang belum menyelesaikan studinya. Di penghujung Juli 2019 nanti, seluruh mahasiswa 2014 harus sudah menyelesaikan kewajibannya. Jika tidak menyelesaikan studinya pada batas maksimal yang telah ditentukan, artinya siap untuk menerima konsekuensinya. Konsekuensi yang diterima dapat berupa Drop Out (DO), atau bisa saja dipindahkan kampus, semua itu adalah kewenangan pihak birokrat Unsri dalam menentukannya sesuai dengan aturan yang berlaku.

Jika konsekuensinya harus di-DO atau dipindahkan kampus, maka hal ini terlihat lucu, karena mahasiswa yang bisa dibilang sesepuh kampus (mahasiswa 2012 dan 2013) saja masih dapat bersantai sembari menikmati masa-masa kuliahnya, sebelum nantinya juga tiba pada batas maksimal untuk menuntut ilmu di Unsri. Diberlakukannya DO atau dipindahkan kampus sepertinya sedikit membantu dalam memperbaiki rasio antara dosen dan mahasiswa. Sebab keefektifan rasio dosen dan mahasiswa di kampus kisaran 1 : 25. Sedangkan saat ini rasio dosen dan mahasiswa di Unsri ialah 1 : 35, bahkan lebih.

Tentunya yang diharapkan bukanlah keefektifan rasio karena mahasiswa di-DO, melainkan mahasiswa mampu menyelesaikan studinya tepat waktu. Dengan begitu, tidak hanya almamater yang merasa bangga karena telah meluluskan sarjana yang kompeten, orang tua yang selalu mengirim doa dari kampung halaman juga telah menunggu kabar baik mengenai kelulusan buah hati tercinta.

Penulis: Redaksi

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *