Opini

Derita Petani Plasma Sawit: Tantangan Kaum Intelektual

Sore hari, 30 Mei 2019. Bersama Dr. Ir. Tri Tunggal, M.Agr. Berkunjung ke wilayah pertanian transmigrasi terdekat dari Kota Palembang. Sekaligus silaturahmi dengan masyarakat yang pernah menjadi informan penelitian. Jarak tempat ini tidak jauh, hanya sekitar 40 Km dari Palembang. Meskipun dekat, suasana lingkungannya sangat kontras, khas daerah pedesaan di Jawa. Menyenangkan, lumayan untuk refreshing dari hiruk pikuk perkotaan. Bagi orang-orang keturunan Jawa, tempat ini tentu cukup untuk melepas kerinduan kampung halaman yang belum sempat didatangi. Pulang dari tempat ini, tentu membawa hasil bumi yang cukup untuk berbuka puasa.

Ada hikmah dari perjalan singkat ini. Bahwa, antara ilmu pertanian dan ilmu sosial terdapat hubungan erat dan saling mendukung satu sama lain. Terutama dalam pemberdayaan masyarakat petani. Karenanya ilmu pertanian mesti belajar ilmu sosial. Begitupun sebaliknya, ilmu sosial juga harus belajar ilmu pertanian. Jka keduanya sama-sama saling mempelajari, maka masyarakat desa dengan segala tantangan yang dihadapinya dapat dibantu dengan bijaksana.

Pertanian tanpa sentuhan sosial yang baik, akan melahirkan praktik kapitalisme di desa. Ini yang terjadi dengan perkebunan kelapa sawit di sekitat Kabupaten Banyuasin, termasuk di tempat ini. Modal hidup berupa tanah seluas 2 hektare berubah menjadi ‘bencana kelaparan’, sebab tanah tersebut terikat dengan program plasma yang tata kelolanya berantakan.

Kepolosan masyarakat desa dimanfaatkan oleh pengusaha perkebunan yang datang dari kota untuk merampas kekayaan mereka. Dengan iming-iming yang menjanjikan, dan sosialisasi yang dibantu oleh aparat dan tokoh lokal yang meyakinkan, sebagian besar petani di tempat ini rela melepas sertifikat tanahnya untuk digadaikan di bank. Uang dari bank diambil pengusaha dengan dalih sebagai modal menggarap lahan masyarakat untuk dijadikan kebun sawit plasma. Setelah sawit menghasilkan, masyarakat dijanjikan penghasilan bulanan dari produksi sawit yang dipanen perusahaan dalam 2 minggu sekali itu.

Apalah arti sebuah janji jika tidak ditepati atau memang dari awal sudah untuk tidak ditepati. Janji tinggalah janji. Setelah digarap bertahun-tahun, petani tidak mendapatkan apa yang dijanjikan di awal. Uang bulanan yang menjadi hak mereka karena telah bergabung sebagai petani plasma tidak pernah diberikan. Kalaupun ada, nilainya tidak sesuai dengan yang seharusnya.

Petani panik, sebab di tanah itulah mereka menggantungkan hidup. Tidak saja untuk hidup sendiri, tetapi untuk hidup istri serta anak-anaknya yang harus dibesarkan. Jika tanah itu tidak menghasilkan, dari mana mereka bisa makan? Sementara kebutuhan hidup terus mendesak, seperti hulu Musi yang terus mengalirkan airnya ke Kota Palembang: tidak terbendung.

Pada kondisi seperti ini, perusahaan lepas tangan. Manajemen kebun plasma sudah 3 kali mengalami pergantian PT. Masyarakat makin dibuat bingung. Sementara sertifikat tanah masih di bank. Tanah yang ditanam sawit akhirnya menjadi kebun tak terurus, dan tetap tidak menghasilkan. Bank tidak bisa mengembalikan sertifikat tanah masyarakat sebab sertifikat itu masih menyisakan hutang yang cukup besar. Artinya selama kebun plasma menghasilkan, perusahaan tidak rutin membayar hutang pinjamannya. Semua keuntungan diraup begitu saja: petani tidak dibagi, hutang pun tidak dilunasi. Hingga saat ini masalah itu belum tuntas. Pemerintah kabupaten pun belum punya solusi untuk mengatasi derita masyarakat ini.

Haruskan civitas akademika turun tangan? Tentu harus, dalam kondisi seperti ini, harapan satu-satunya hanya pada kaum intelektual. Dengan modal ilmu pengetahuannya yang mapan serta status sosial yang cukup tinggi, para mahasiswa dan dosen tentu harus memberi manfaat yang nyata bagi kehidupan masyarakat.

Masalah di tempat ini, di Desa Mulya Sari, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, adalah salah satu yang harus dibantu. Masyarakat sudah lelah menunggu. Derita sudah kadung menghisap sari-sari gizi dari tubuh mereka. Tinggalah badan kurus kering karena banting tulang bekerja menjadi buruh di lahan orang lain.

Saat bercerita tentang tanahnya yang bermasalah itu, binar-binar mata dan kerutan dahi Pak Edi Sulaiman, salah satu petani di sini, menyiratkan kesedihan dan kekesalan yang bercampur satu. Nada suaranya bergetar, menyesal telah terjebak dalam perjanjian plasma yang jauh dari menguntungkan. Syukur Tuhan Yang Maha Esa, masih berbelas kasih untuk memberi rezeki. Masih menjaga kelangsungan hidup para petani dan keluarganya di desa ini. Sekarang Tuhan tinggal menunggu, apakah umatnya dapat saling membantu?

Penulis: Fajar Setya Hadi

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *