CerpenSastra

Degradasi Moral di Dunia Pendidikan

Suatu ketika di sebuah sekolah, segerombolan siswa yang tengah asyiknya mengintip secara bergantian pada lubang pintu kamar mandi siswi dipergoki oleh gurunya. Merasa takut akan hal itu, membuat mereka pun kocar-kacir untuk membubarkan diri. Namun, si Gembul yang berada pada barisan paling belakang tak kuasa untuk melarikan diri, karena guru yang telah memergoki perbuatannya dengan sigap mencengkram bahu kirinya.

Kemudian, guru yang bernama Pak Parman pun menjewer dan memarahi si Gembul di tengah lapangan, sebagai hukuman atas perbuatan tak senonohnya. Merasa kesakitan dan malu karena di lihat oleh siswa yang lain, si Gembul pun melaporkan kejadian itu kepada orang tuanya saat sepulangnya ke rumah.

“Pak, tadi aku di jewer sama guruku di sekolah,” ucap si Gembul kepada bapaknya yang tengah letih pulang dari kebun. Mendengar ucapan anaknya, dengan penuh rasa geram dan tanpa mecari tahu kebenarannya, bapak si Gembul pun bergegas mendatangi rumah Pak Parman yang tinggal di asrama sekolah.

“Parman, keluar kau,” suara teriakan lantang bapak si Gembul memanggil Pak Parman sambil memegang sebilah bambu berukuran satu meter pada tangan kanannya. Sontak, suara keras dari teriakan bapak si Gembul membuat Pak Parman dan tetangganya kaget bukan main. “Ada apa pak? Kenapa begitu marah?,” sahut Pak Parman. Lalu, bapak si Gembul bertanya soal pasal Pak Parman yang menjewer telinga anaknya sampai memerah dan tergores.

Pak Parman yang ingat kejadian tadi pagi di sekolah pun mencoba untuk menjelaskan agar tidak ada salah paham. Tapi, belum selesai menjelaskan, bapak si Gembul lebih dulu menimpuki kepala Pak Parman dengan sebilah bambu runcing yang dibawanya hingga berdarah. Kekerasan fisik yang dilakukan oleh bapak si Gembul pun terekam jelas oleh tetangga Pak Parman. Melihat perdebatan keduanya yang tak kunjung selesai dan adanya unsur kekerasan, tetangga Pak Parman pun berinisiatif menelpon polisi.


Tak berselang lama, polisi dengan mobil dinasnya datang menjemput Pak Parman, Gembul dan Bapaknya, serta tetangga yang menyaksikan untuk digiring ke kantor polisi. Setibanya di kantor polisi, tetangga Pak Parman yang menjadi saksi pertikaian keduanya diinterogasi oleh salah seorang polisi berbadan tegap, “Bagaiman ini bisa terjadi?”. Tetangga Pak Parman yang juga guru di sekolah si Gembul pun menjelaskan awal mula ceritanya hingga aksi kekerasan pun terjadi.

Selanjutnya, polisi yang sama pun bertanya kepada Pak Parman untuk lebih memastikannya. Sambil menahan rasa sakit dan terus memegangi perban pada lukanya, Pak Parman yang merupakan satu-satunya guru olah raga di sekolah si Gembul tersebut mengakuinya, dengan alasan memberi efek jera dan suapaya si Gembul agar tak mengulangi perbuatannya. “Apakah bapak sudah menanyakan siapa yang diintip oleh si Gembul?,” tanya polisi lagi pada Pak Parman. Agaknya ada merasa bersalah, Pak Parman menjawab belum dan tidak ada sedikit pun terpikirkan olehnya. Lantaran sudah terlalu gemas melihat tingkah Gembul dan kawanannya.

“Nah kan, gak tau apa-apa langsung main tangan,” celetuk Bapak si Gembul dengan lantangnya. Sebab, bapak si Gembul masih tak terima anaknya diperlakukan seperti itu. Polisi yang semakin riweh dengan segala drama mencoba meredakan amarah bapak si Gembul yang terkesan seperti anak kecil dan tidak bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Rasa keingintahuan tetangga Pak Parman akan sosok yang diintip si Gembul mulai meronta-ronta. Sehingga, ia mencoba menanyakannya pada si Gembul. Dengan sedikit ingin memberitahu dan banyak mengejek, Gembul menjawab “Ibu mau tau aja? Atau mau tau banget?”. Mendengar jawaban si Gembul, tetangga Pak Parman pun membalas guyonan Gembul, “Hah, kamu lucu banget, tapi sayang sekarang di kantor polisi bukannya di televisi ikutan stand up comedy“. Seketika semuanya tertawa terbahak-bahak.

Gembul yang tersipu malu pun kemudian menjawab dengan serius dan agak ketakutan pertanyaan tetangga Pak Parman. “Hmmmmm…. i..nii buu….”, sesekali Gembul mengusap air matanya karena takut. Polisi yang sedari awal mengintrogasi ke empatnya berusaha menenangkan sembari menatap dan mengelus pundak si Gembul. Dengan terbata-bata, Gembul memberitahu bahwa yang ia intip bersama rekan-rekannya di kamar mandi adalah kepala sekolah dan Chyntia yang tak mengenakan baju. Gembul juga mengatakan bahwa Chyntia keliatan menangis sesenggukan di pojokan.

Mendengar ucapan si Gembul, semua orang di ruangan terkejut terheran-heran. Lain halnya dengan tetangga Pak Parman yang seketika pingsan tak sadarkan diri karena kepala sekolah yang dimaksud si Gembul adalah suaminya sendiri. “Baiklah kalau begitu, cukup jelas semuanya dan akan kami proses,” ucap Pak Polisi sambil menghantamkan kepalanya ke tembok. Glegaarrr


Penulis : Juniancandra Adi Praha

Editor: Desi Rahma Sari

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
error: Content is protected !!