BeritaFeature

Cinta untuk Indonesia dari Manusia Gerobak

Saat itu, malam terasa dingin seperti biasa, ditambah bisingnya suara di jalanan. Tak sengaja, mataku menangkap sepasang suami istri yang tengah duduk di trotoar jalan, mereka meminum air dari gelas berwarna putih, ditemani lalu-lalang kendaraan kota. Semula, aku hanya memperhatikan mereka dari jauh. Entah kenapa, aku tergerak untuk mendekati mereka. Kududukkan diriku di samping mereka, lalu memperkenalkan diri. Setelahnya, aku mulai bertanya beberapa pertanyaan ringan, sekadar untuk memuaskan rasa penasaran.

Sang Istri bernama Yeni, seorang ibu berusia 33 tahun. Berperawakan tinggi dengan badan sedikit gemuk, kulitnya berwarna cokelat. Sepanjang hari, bersama suaminya, Yudi, ia bergantian mendorong gerobak tua yang menjadi sumber penghasilan mereka. Pak Yudi tak banyak bicara, topi dan sandal tua jadi ciri khasnya. Dari percakapan ringan tadi, aku mengetahui bahwa mereka memiliki buah hati yang masih sekolah. Dititipkan kepada neneknya ketika mereka mencari nafkah, sesekali mereka bawa.

Keluarga kecil tersebut tinggal di Talang Kelapo, sebuah wilayah di pinggiran Kota Palembang, tempat berteduh ketika lelah dan letih melanda, nyaman tanpa hiruk-pikuk kota, sebuah gubuk, kata Bu X. Dari tempat ini, langkah awal mereka berjalan, menyusuri tempat mencari nafkah seperti plastik, botol, dan kardus bekas yang sangat berharga bagi mereka.

Bukannya tidak ingin mencari pekerjaan yang lebih layak, sekolah dasar pun mereka tak selesai. Menjadi kuli bangunan, salah satu yang pernah Pak Yudi kerjakan. Tapi semakin hari pekerjaan sebagai kuli bangunan semakin jarang.

Sehari-hari, mereka terus menarik gerobak menyusuri jalan, sampai di simpang jalan layang Patal Palembang. Menunggu pasar swalayan tutup, sembari membunuh waktu, mereka duduk di trotoar dengan wajah tertunduk dan mata sedikit terpejam. Di belakang mereka, berdiri dengan megah salah satu hotel berbintang. Tempat ini menjadi pilihan mereka karena banyak sekali tumpukan sampah plastik. Terkadang, hujan menjadi penghalang langkah mereka  untuk mengais rezeki.

Uang yang mereka hasilkan memang tak seberapa, tapi itu sudah mencukupi kehidupan mereka, walau sekadar untuk makan. Pekerjaan seperti ini lebih mereka sukai, ketimbang mengemis kepada orang lain. Biarkan saja dia dicerca, asal tidak menganggu. Kerap kali Satpol PP menghampiri mereka, dan menanyakan apakah mereka termasuk orang yang menyuruh anak untuk mengemis. Memang, di sekitar sini kulihat banyak sekali anak-anak kecil yang “dipaksa” untuk mengemis. Sesekali mereka memeriksa isi gerobak, memastikan apakah ada anak kecil yang dimaksud. Tak jarang dengan tegas mereka menjawab, “Jangankan kami suruh mengemis, Pak, mengajaknya ikut mencari barang pun tak tega rasanya.”

Ketika diselenggarakkan ajang olahraga internasional Asian Games beberapa waktu yang lalu, mereka tidak diperbolehkan berkeliaran di jalanan, dengan alasan untuk menertibkan jalan. Padahal, mereka tahu alasannya ialah karena malu, jika Indonesia penduduknya berkeliaran di jalan menggunakan gerobak demi mengisi perut. Hal ini dianggap akan membuat citra Indonesia buruk di mata orang asing yang berkunjung.

Selama hampir satu minggu mereka tidak turun ke jalanan kota, alasannya demi menjaga nama baik negara ini. Mereka tidak hanya berdiam diri di rumah, melainkan tetap mencari barang yang layak dijual disekitaran rumah dan lorong-lorong tikus. Aku berpikir, jika keduanya memikirkan rasa malu Indonesia, bagaimana dengan mereka yang tak malu mengenakan rompi oranye bertuliskan tahanan KPK yang melambaikan tangan meski telah mempermalukan Negara?

Bagaimana dengan orang-orang yang memiliki jabatan dan uang segunung, yang tengah menyantap makan malam di hotel belakang mereka, tempat yang mewah dan megah, berbagai jenis makanan ada, mulai dari lobster, kepiting berwarna merah dengan ukuran jumbo, ikan tuna yang lezat, dan cream soup ditaburi udang, makanan yang tak akan mungkin dibayangkan oleh Bu Yeni dan suaminya. Belum lagi ditambah berbagai jenis minuman berwarna-warni, seperti warna baju yang dipakai Bu Yeni malam itu.

Mungkin, harga makanan itu tidak sebanding dengan pendapatan mereka, yang hanya tiga puluh ribu hingga empat puluh ribu rupiah perharinya. Di zaman modern ini, nominal uang tersebut hanya cukup membeli empat bungkus nasi goreng dengan kerupuk.

Ketika kulihat di sekelilingku, saat mobil berarakan keluar dari hotel, terbersit di benakku, apakah ada rasa iba para konglomerat itu, melihat dua orang dengan gerobak sedang terduduk penat? Ataukah mereka melihat, tapi berpura-pura tidak tahu? Sejauh ini, Bu Yeni dan Pak Yudi belum menerima bantuan, kerap kali yang mereka terima adalah cacian yang menyakitkan hati.

Perbincangan kami selesai. Waktu telah merangkak menuju pukul sebelas malam, ditandai dengan tutupnya minimarket di depan kami. Aku beranjak pulang sambil menyalami keduanya, sembari merenung atas cinta mereka pada negeri ini. Bagaimana caraku mencintai negeri ini esok? Bagaimana denganmu?

Penulis: (rhs)

Editor: (din)

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *