Citizen journalismOpini

Carut-marut Konflik Cinta Manis, di Mana Pemerintah, di Mana Mahasiswa?

Secara normatif, keterlibatan pemerintah dalam sengketa tanah merupakan implementasi dari tata kelola keamanan dan kepentingan pembangunan yang dibuat oleh pemerintahan itu sendiri. Pertanyaan mendasar dari hal tersebut adalah, di mana letak keberpihakan pemerintah, apakah untuk membela kepentingan masyarakat? Atau hanya untuk membela kepentingan sekelompok orang?

Konflik tanah dan turunannya tidak seharusnya terjadi dalam lingkaran kerja pemerintah dan masyarakat, di mana hak-hak masyarakat, seperti kehidupan yang layak, tanah warisan, ketenangan hidup sudah mulai dihilangkan karena kungkungan konflik atas tanah yang dipergunakan untuk badan usaha penambah investasi pemerintah. Pemerintah dan masyarakat seharusnya berada dalam pola kemitraan untuk menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan pada masing-masing pihak.

Pendirian perkebunan tebu dan pabrik gula Cinta Manis oleh PTP XXI-XXII (VII) berdasarkan SK Mentan No. 076/Mentan/1981 tanggal 2 Februari 1981, tentang izin prinsip  pendirian perkebunan tebu dan pabrik di Sumatera Selatan, merupakan upaya pemerintah dalam dalam memenuhi swasembada gula dalam negeri pada waktu itu  (A. Kholek S.Sos.MA). Pemerintah dalam hal ini sudah menyediakan lahan seluas 21.358 Ha, dibagi menjadi enam rayon. Rayon I dan II terletak di Desa Burai dan sekitarnya dengan topograpi rata sampai landai. Rayon III,IV dan V berada di wilayah Desa Ketiau, Seribandung, Serikembang dan sekitarnya bertopograpi landai sampai berbukit kecil.

Pendirian perkebunan tebu dan pabrik gula ini bertujuan untuk memandirikan Indonesia terkait persediaan gula. Luas area perkebunan yang telah ditetapkan pemerintah tersebut ternyata masih dirasa kurang oleh pihak PTPN VII, dan pada akhirnya merampas tanah rakyat yang secara hukum tidak tersertifikasi karena tanah itu merupakan tanah warisan dari keluarga terdahulu, dan hal ini tentunya menjadi persoalan di masyarakat yang tanahnya dirampas.

Persoalan tanah di PTPN VII Cinta Manis merupakan satu dari ratusan konflik agraria yang terjadi di Indonesia. Masuknya Perseroan Perkebunan Nusantara ini membawa duka bagi masyarakat di hampir 22 desa di Kabupaten Ogan Ilir. Hal ini beranjak dari keadaan tanah masyarakat yang dirampas paksa dan diklaim oleh pihak perusahaan. Lahan masyarakat ini dialihfungsikan menjadi perkebunan skala besar sehingga hak-hak masyarakat atas tanah jadi bermasalah. Tidak sampai di situ, berkembangnya konflik ini membawa duka yang teramat mendalam bagi masyarakat, karena mereka harus menjadi buruh perkebunan di tanah mereka sendiri dengan gaji yang sangat tidak layak.

Terjadi hal yang memilukan ketika kita mendalami kasus ini, karena dalam perjalanannya, masyarakat tentunya selalu melakukan perlawanan atas pengembalian hak mereka atas tanah. Tercatat sejak tahun 1981-2019, sudah terjadi fase-fase perlawanan yang menyisihkan korban dari pihak masyarakat, baik itu anak-anak, perempuan dan orang tua. Tahun ini, masyarakat yang menjadi korban mendapatkan angin segar lagi, karena dalam penyelesaian konflik di tanah mereka kembali dibantu oleh mahasiswa, baik secara hukum dan lain sebagainya. Konflik ini tidak akan bisa selesai dalam waktu yang singkat, tapi saya yakin, dari kerjasama semua pihak, konflik agraria ini akan terselesaikan dan hak-hak masyarakat akan dikembalikan.

2 Februari 2019, mahasiswa dan sebagian masyarakat dari empat Desa: Tanjung Pinang, Seribandung, Betung, dan Tanjung Laut, melakukan aksi long march sebagai bentuk pencerdasan kepada masyarakat Ogan Ilir terkait konflik yang sudah terjadi puluhan tahun tersebut. Dari apa yang disampaikan masyarakat, terakhir kali mereka melakukan perlawanan adalah tahun 2012 lalu, dan baru mulai bangkit kembali pada tahun 2019. Hal yang membuat masyarakat tidak berani adalah tekanan dari oknum yang saya kira adalah pihak PTPN VII. Oknum tersebut selalu mengintervensi masyarakat yang mempunyai gagasan untuk kembali melakukan perlawanan.

Belum ada hal yang substansial pada aksi mahasiswa dan masyarakat ini, karena ini adalah percikan semangat bagi mahasiswa untuk terus mengawal konflik Cinta Manis, dan khususnya sebagai bentuk pemberian semangat bagi masyarakat karena mahasiswa berada di barisan mereka untuk menuntut kembali hak-hak masyarakat yang dirampas PTPN VII. Sebenarnya sudah banyak pihak yang ikut serta dalam konflik Cinta Manis, baik dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan lain lain, akan tetapi sampai sekarang belum ada penyelesaian untuk konflik ini.

Dari diskusi yang kami lakukan dengan pihak masyarakat, lembaga yang ikut serta menyelesaikan konflik itu ternyata membawa kepentingan tersendiri, dan ketika mereka tidak mendapatkan kepentingan tersebut mereka langsung lepas tangan dan hanya menyisakan trauma bagi masyarakat. Mahasiswa sampai sekarang masih mengkaji dan menyelidiki konflik ini, untuk kemudian terlebih dahulu menyelesasikannya melalui Lembaga Bantuan Hukum.

Penulis: Rahmad Riady

Status: Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional 2017

Editor: (din)

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!