ArtikelOpini

Bodo Amat dengan Tepat

“Bodo amat deh ya, mau dengerin semua omongan orang tentang diri kita gak bakal ada habisnya.”

Kalimat di atas adalah kalimat yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, bukan? Dalam beberapa kondisi, kalimat tersebut memang sangat relevan, karena mulut manusia sekarang memang sudah semakin tidak karuan, yang salah dicaci mati-matian, yang benar dicari-cari kesalahannya.

Namun, tentunya kalimat tersebut pun tidak selalu relevan. Ada masa di mana kita sebagai manusia perlu menyediakan telinga dan hati yang lapang untuk membiarkan diri dikritisi sedemikian rupa oleh sesama. Mungkin rasanya akan sedikit menjengkelkan, namun sebagai manusia, kita perlu dinasihati, bukan?

Kadang kita lupa bahwa kita, manusia, selalu memiliki dua sisi. Sisi baik dan sisi buruk. Kita selalu ingin orang lain memandang sisi baik kita saja, namun kita sendiri lebih senang memandang sisi buruk orang lain. Kita senang mengomentari, namun anti jika dikomentari. Kita senang dianggap baik, namun kadang lupa bahwa selalu merasa baik bukanlah ciri dari orang baik itu sendiri.

Kita memang sering lupa diri. Kita lebih senang mencaci-maki daripada memberi solusi, lebih senang berburuk sangka daripada berbaik sangka, lebih senang menyalahkan orang lain daripada mengoreksi diri sendiri, lebih sering memendam iri daripada mensyukuri apa yang sudah ada di sisi kita selama ini. Intinya, kita kadang memang tidak tahu diri.

Kita lebih sering menutup telinga terhadap kritikan daripada melapangkan hati demi menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tidak semua kritik itu buruk. Kadang, kritik dari sesama adalah sarana terbaik untuk kita menjadi lebih baik lagi. Jadi, bagaimana kita akan jadi lebih baik jika kita selalu menutup telinga untuk dinasihati?

Kita mungkin benci dengan mereka yang berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain, namun mungkin tanpa kita sadari, kadang, kita sendiri adalah pribadi yang sewenang-wenang. Kita mungkin tidak suka dengan seseorang yang selalu “menebar sampah”, namun mungkin pula secara tidak sadar, bagi orang lain, diri kita sendirilah yang menjadi “penebar sampah” itu sendiri.

Kadang, kita memang benar-benar perlu mendengar keluh kesah dari mereka yang berada di samping kita. Semata-mata untuk menyadari, bagaimana lingkaran kita ini menilai diri kita? Bagaimana perasaan orang-orang selama mereka dekat dengan kita? Sudahkah kita menjadi pribadi yang cukup baik bagi sesama selama ini? Apakah mereka senang berada di dekat kita? Apakah hubungan sosial ini terjadi hanya karena dipaksa keadaan?

Jawabannya hanya akan kita dapatkan dengan mendengarkan mereka yang ada di samping kita. Jawabannya hanya ada pada mereka. Karena jika kita selalu menilai diri kita sendiri, hasilnya tidak selalu benar, baik saat kita menilai sisi buruk atau sisi baik diri kita sendiri.

Meski kita sejatinya adalah satu-satunya manusia yang paling mengetahui diri kita, kita pun makhluk sosial yang memiliki hubungan dengan sesama manusia, maka dari itu cukup penting untuk kita memeriksa, apakah kita menjadi peran antagonis atau protagonis di dalam kisah orang lain, terutama yang tersayang dan terdekat.

Namun tidak bisa kita mungkiri, sebaik apapun kita bertingkah laku, akan ada satu kisah di mana kita yang menjadi peran antagonisnya. Namun, itu tidak masalah. Kita memang selalu memiliki dua sisi, sisi baik dan sisi buruk. Tidak mungkin selamanya, setiap manusia menganggap kita sebagai pribadi yang baik hati dan menyenangkan. Dan di saat seperti inilah kita harus menerapkan prinsip pada kalimat awal yang muncul dalam tulisan ini. Bodo amat.

Sebab tidak semua hal bisa kita atur adanya, kita tidak akan pernah bisa menjadi pribadi yang selalu dipandang baik. Sebaik apapun, kita akan selalu dianggap setan oleh satu atau sebagian kecil manusia di bumi. Ketika kita sudah berusaha tetap baik dan selalu mencoba meminta maaf atas kesalahan yang ada, namun beberapa manusia tetap saja menganggap kita sebagai setan di dalam ceritanya. Maka bodo amatlah. Itu waktu yang tepat.

Sumber foto: triubunnews.com

Penulis: Biancha Anisyah Lestari (Jurnalis Muda LPM GS)

Editor: Febby Anggraini

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!