Opini

Bila Unsri Terapkan PK2 Daring

Tak ada yang tahu secara pasti kapan pandemi Covid-19 akan mereda. Upaya Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar, yang dirancang sedemikian rupa dan telah diterapkan di banyak daerah, pun tak mampu menuntaskan bencana dengan cepat. Keresahan akan dampak yang melanda kian menyulitkan dan mengharuskan mereka selaku pimpinan pemerintahan, instansi dan yang lainnya untuk memutar otak, agar tak ada satu pun kegiatan yang terhambat.

Misalnya saja Universitas Gajah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang memutuskan untuk melaksanakan orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) dilakukan dalam jaringan (daring). Ya, sangat menarik bukan mendengar kabar tersebut? Pasalnya, ospek daring yang akan diterapkan terbilang baru dan sulit dibayangkan bagaimana jadinya nanti. Seperti diketahui, bahwa setiap tahunnya ospek UGM diwarnai dengan kemeriahan formasi yang kreatif, begitu pula dengan ITS dan universitas lainnya. Namun, apabila ospek daring yang dipilih dalam menyambut mahasiswa baru (maba), apakah euforia kemeriahan akan tetap dirasakan?

Keputusan melaksanakan ospek daring di tengah pandemi cukup menjadi solusi. Bukan tidak mungkin, ospek daring pun diterapkan oleh Universitas Sriwijaya (Unsri) demi mencegah penyebaran Covid-19 yang diprediksi akan berlangsung lama, karena kesehatan dan keselamatan lebih penting ketimbang pengenalan kehidupan kampus (PK2). Tentu saja alternatif lain seperti penundaan dapat dipilih, tapi opsi ini tak cukup baik daripada ospek daring. Menunda seremoni penyambutan ribuan maba yang kerap kali disebut sriwijaya muda, hanya akan memperlambat perkuliahan. Lantas, apa jadinya bila Unsri terapkan PK2 daring?

Mari mulai mencoba membayangkan PK2 daring!


Penerapan PK2 daring di Unsri akan memunculkan kelesuan berkepanjangan bagi maba. Karena mereka tak sedikit pun merasakan keriuhan pesta pora penyambutan masuk ke dunia kampus bersama teman-temannya. Selain itu, PK2 daring pun telah menambah daftar panjang berbagai momen yang tidak dicicipi oleh maba, mulai dari tak merasakan serunya menyanyikan lagu mars mahasiswa di dalam Auditorium Unsri yang menggema, dan tak merasakan semangat membara saat mengucapkan sumpah mahasiswa. Dari sana, maba bisa saja tak paham betul mengenai jati dirinya sebagai mahasiswa. Huffft kasihan.

Pelaksanaan PK2 daring, tak akan menyusahkan maba dalam menyiapkan segala atribut seperti tahun-tahun sebelumnya. Maba tidak perlu mendesain pom-pom maupun paper mob yang biasanya digunakan untuk membentuk formasi sebagai ajang gengsi dan pembuktian saja. Tidak adanya penggunaan pom-pom dan paper mob akan mengajarkan maba untuk semangat menyuarakan gerakan bebas sampah. Sebab pada tahun sebelumnya, atribut pom-pom yang tidaklah menarik banyak menuai kritik lantaran dinilai tak ramah lingkungan.

Tidak hanya itu, sesama maba saja nantinya tak begitu saling kenal dan akrab sejak awal. Karena maba tidak akan didudukkan bersama secara berdekatan pada satu tempat, melainkan duduk di kediaman masing-masing sambil fokus di depan kamera handphone atau laptop. Itu pun kalau jaringan semua maba sama lancarnya, kalau tidak, ya hanya mendengar suara putus-putus dengan tampilan layar yang terlihat carut marut. Apalagi, jika ada maba yang mematikan kameranya, hanya akan nampak gambar hitam dengan nama di sisi bawah yang terlihat. Sangat suram bukan?

Seluruh organisasi mahasiswa (ormawa) yang ada di Unsri juga akan merugi bila PK2 daring terjadi. Penampilan ormawa yang tiap tahunnya dilakukan dengan tujuan untuk mempromosikan dan menarik maba terancam tak ada sama sekali. Hal ini pula yang nantinya akan menjadi cikal bakal tak minatnya seluruh maba Unsri untuk bergabung ke ormawa, karena nama ormawa dan arahnya saja tak dikenali oleh maba. Dengan begitu, setiap ormawa di Unsri akan dihadapkan pada tantangan untuk lebih ekstra dan gencar dalam promosi lewat berbagai cara. Mungkin saja bila ormawa diberikan waktu dan kesempatan saat PK2 daring, untuk memperkenalkan diri layaknya presentasi tugas di depan kelas. Tapi, bukankah hal itu terlalu kaku?

Akan tetapi, di balik semua kerugian maba dan ormawa karena tak adanya kemeriahan PK2. Pihak kampus mungkin cukup diuntungkan bila PK2 daring diterapkan tahun ini. Unsri tidak perlu menghabiskan banyak anggaran untuk konsumsi selama penyelenggaraan PK2. Tidak ada pengeluaran untuk kostum PK2 dan tak payah menyewa tenda bagi fakultas yang belum memliki gedung. Hanya akan ada pengeluaran untuk subsidi kuota dalam membantu maba, karena kuota lah yang dibutuhkan bila diterapkan PK2 daring, agar seluruh maba dapat menyaksikan dengan seksama rapat senat penerimaan mahasiswa tahun ajaran baru. Semoga saja subsidi dapat diberikan kepada seluruh maba, mengingat beberapa waktu lalu tak ada kejelasan pemberian subsidi kuota bagi mahasiswa hingga kuliah daring usai.

Namun, semua yang tertera di atas hanyalah angan-angan bila PK2 dilakukan daring ya. Kita doakan saja agar pandemi ini cepat berlalu dan semuanya kembali normal.


Penulis : Juniancandra Adi Praha

Editor: Desi Rahma Sari

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!