ArtikelOpini

Berhenti Membandingkan Valak dengan IPK

Beragam cara dilakukan mahasiswa untuk mengekspresikan ketakutannya melihat nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Salah satunya yang beberapa hari ini saya lihat di sosial media. Sebuah foto yang membandingkan ketakutan antara melihat hantu Valak dengan akun akademik.

Ya, memang terlihat lucu jika kita harus membandingkan antara keduanya. Seperti kita tahu bahwa yang muncul di akun akademik mahasiswa hanyalah sederetan nilai selama semester berjalan. Lantas, begitu seramkah sebuah nilai jika dibandingkan dengan hantu Valak?

Hal tersebut tidak seharusnya terjadi di kalangan mahasiswa. Melakukan perbandingan seperti ini justru akan membuat kita tidak ikhlas menerima hasil nilai yang muncul di akun akademik. Apalagi jika sampai menangis, karena nilai IPK yang tak sesuai ekspektasi. Menangis bukanlah solusi yang tepat, karena dengan menangis hanya sebatas meluapkan amarah dan kekesalan semata saja.

Seharusnya yang kita lakukan adalah berdo’a agar segala jerih payah kita selama menuntut ilmu di ganjar dengan nilai yang sesuai. Selain itu, introspeksi diri juga diperlukan untuk mengukur seberapa besar usaha yang telah dilakukan dan mulai menetapkan strategi kedepannya agar lebih baik lagi.

Kita juga bisa menggali potensi diri yang belum kita kembangkan untuk memperdalamnya. Karena tak selamanya orang yang mendapatkan nilai IPK buruk tidak punya kelebihan yang lain. Bangga dengan nilai IPK yang kita capai itu wajar, tetapi di lain sisi nilai IPK yang kecil juga telah menyadarkan kita bahwa kuliah tidak hanya berbicara soal nilai saja. Lebih dari itu, yang kita pentingkan banyaknya ilmu yang  terkuasai untuk diterapkan setelah lulus nanti.

Selain itu, tidak kalah pentingnya dari nilai IPK adalah segudang pengalaman yang telah didapatkan di kampus. Seperti pengalaman berorganisasi atau mengikuti forum diskusi. Terkadang mahasiswa yang semata-mata mencari nilai IPK yang tinggi, suka lupa akan yang satu ini. Dengan memiliki segudang pengalaman telah membuat sedikit berbeda dengan mahasisiwa lainnya. Sebab di beberapa situasi, sedikit berbeda lebih baik ketimbang sedikit lebih baik.

Jadi, tunggu apalagi? Mulai sekarang berpikir dan berbuat lebih bijak lagi dalam menyikapinya, karena nilai IPK tak seseram hantu Valak.

Penulis : Juniancandra Adi Praha
Editor   : Fatta Sofiana S

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *