EditorialOpini

Benarkah LGBT adalah sebuah Fitrah?

Di penghujung tahun 2017, Unsri dikejutkan dengan keberadaan sebuah grup facebook dengan nama “Gay Unsri Indralaya-Bukit”. Screenshot keberadaan grup tersebut menyebar viral di kalangan mahasiswa Unsri ditengah sedang memanasnya isu Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) dalam skala nasional. LGBT beberapa tahun belakangan menjadi perbincangan di seluruh dunia setelah beberapa negara besar termasuk Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis dan aktivitas massif kampanye pendukung LGBT yang khas dengan bendera pelangi dan tagar #LoveWins.

Sekitar tahun 1960-an isu LGBT masih menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan, hal ini dikarenakan tekanan dari seluruh masyarakat beragama, dimana tidak ada satupun agama di dunia yang sewajar dengan keberadaan LGBT, bahkan dalam agama Islam orientasi seksual sejenis sangat dilarang keras sehingga beberapa negara Islam menerapkan hukuman keras terhadap pelakunya. Pada tahun tersebut juga, LGBT masih dianggap sebagai gangguan kejiwaan oleh mayoritas ilmuwan psikologi di dunia.

Namun di abad ke-21 paradigma tersebut mulai mendapat pertentangan dari sekelompok psikolog lain yang menganggap bahwa orientasi seksual sesama jenis bukanlah gangguan jiwa, melainkan muncul sejak manusia lahir akibat warisan/ kelainan genetik. Banyak Negara atas pertimbangan tersebut mulai membuka ruang bagi keberadaan LGBT bahkan melegalkan pernikahan sesama jenis.

Di Indonesia tahun 2016, isu LGBT pernah jadi perbincangan panas bahkan hingga ditayangkan di ILC TVone dengan judul “LGBT marak, apa sikap kita?”. Serangkaian persebaran informasi sangat masif sehingga memunculkan kekhawatiran sebagian pihak bahwa suatu saat nanti gerakan tersebut akan membesar dan berkembang di kalangan remaja Indonesia.

Argumen para pengiat gerakan LGBT selalu berdasar pada paradigma ilmuwan tentang keberadaan mereka yang dianggap sebagai sebuah fitrah, LGBT dianggap sesuatu yang wajar karna muncul sejak lahir dan tidak bisa disembuhkan, argument tersebut yang selalu digunakan sehingga untuk menyanggahnya kita juga perlu menggunakan ilmu pengetahuan. Pertanyaanya adalah, benarkah LGBT adalah sebuah fitrah? Benarkah sifat LGBT muncul sejak lahir?

Dalam sudut pandang saya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya ingin menjawab permasalahan LGBT dari sudut pandang Sosiologi Komunikasi, menurut dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Prof.Dedy Mulyana dalam bukunya yang berjudul “Membongkar Budaya Komunikasi”, Ia beranggapan bahwa permasalahan LGBT dapat dijelaskan oleh teori Kognitif Sosial, di dalam teori tersebut dijelaskan bagaimana manusia dan cara berpikirnya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Hal ini bisa jadi keluarga, teman, tokoh atau karakter di televisi dan media dapat mempengaruhi cara berpikir seseorang termasuk mempengaruhi orientasi seksualnya.

Teori lain yang menjelaskan tentang pengaruh tindakan orang lain terhadap cara berpikir adalah teori Interaksi Simbolik, menjelaskan bagaimana seseorang mengemas pesan secara apik, baik itu bersifat negatif atau positif, meskipun informasi tersebut bersifat negatif bahkan merusak. Namun, dikemas secara baik maka informasi tersebut dipercaya, terutama jika yang menyampaikan adalah tokoh yang diidolakan oleh seseorang yang melihat atau mendengarnya.

Teori tersebut setidaknya menyanggah dua argumen aktivis LGBT, bahwa orientasi seksual yang menyimpang merupakan sebuah fitrah yang tak bisa dimunculkan, dan juga sebuah kondisi jiwa alamiah yang tak bisa disembuhkan.

Sebagai contoh, seorang ibu yang memiliki 5 anak perempuan, akhirnya sang ibu melahirkan anak ke 6 seorang laki-laki, namun disaat bersamaan ayahnya meninggal/ bekerja di luar kota sehingga ia tidak memiliki gambaran tentang sosok ayah yang menjadi patokan perilaku seorang laki-laki. Saya kira contoh tersebut banyak kita temukan di sekitar, dimana hasil anak tadi punya perilaku yang seperti perempuan, bicara dengan suara melengking dan sedikit melambai.

Contoh lainnya, seorang ibu yang sangat mengharapkan kehadiran anak perempuan atau sebaliknya, namun hingga anak ke-4 ia tak kunjung mendapat anak perempuan, akhirnya anak terakhir diperlakukan seperti perempuan atau sebaliknya sesuai dengan obsesi sang ibu, seperti mendandani ia dengan pakaian perempuan, dan hal-hal lain yang membuat dalam diri anak tersebut muncul semacam afirmasi bahwa laki-laki harus bersifat sebagaimana yang ia lihat dari lingkunganya.

Teori ketiga menjelaskan mengenai perilaku seksual menyimpang adalah Teori Penjulukan, dimana tekanan atau labeling yang diberikan dari seseorang kepada orang lain secara serius, lama kelamaan akan diterima oleh orang tersebut sebagai fakta, meskipun sebenarnya tidak seperti itu. Contohnya adalah penelitian yang diadakan oleh sekelompok sarjana psikologi di Amerika Serikat, seseorang yang sedang dalam kondisi depresi mendapat vonis dari dokter bahwa ia sudah gila, omongan dokter tersebut di yakini oleh keluarga pasien dan membuat mereka juga melabeli sang pria dengan sebutan “gila”. Hasilnya mengejutkan, tak lama kemudian sang pria yang tadinya tidak mengalami gangguan kejiwaan pada akhirnya benar-benar mengalami gangguan jiwa berat dan menjadi gila.

Dalam hal ini, ditengah tindakan “melambai” dan segala tindakan lain, ia menerima tekanan berupa kekerasan verbal seperti perkataan seseorang yang menyebut bahwa ia adalah “Banci/bencong” dan sederet kekerasan verbal lainnya. Ternyata hal tersebut justru makin memperparah keadaan seseorang yang memiliki penyimpangan orientasi seksual.

Ada beberapa hal yang bisa kita ambil dari apa yang saya paparkan diatas, yang pertama adalah bahwa media berperan dalam pembentukan orientasi seksual menyimpang yang dialami oleh orang-orang yang memiliki penyimpangan orientasi seksual, media harus menghentikan penayangan pesan-pesan yang memicu penyimpangan seksual seperti muatan aktor yang “melambai”. Media juga harus aktif mengedukasi masyarakat, terutama remaja tentang bagaimana seharusnya mereka bertindak, media harus menjadi rambu-rambu untuk mencegah terjadinya penyimpangan perilaku.

Yang kedua adalah LGBT dapat disembuhkan, dengan cara mengedukasi dan menyadarkan orang-orang dengan perilaku seksual menyimpang dengan pendidikan agama atau dengan ilmu pengetahuan yang membawa mereka ke jalan yang benar. Diskriminasi terhadap LGBT akan membuat mereka semakin terbuang dari masyarakat dan membuat mereka depresi, hal ini tentu tidak akan menyelesaikan masalah LGBT, justru menghilangkan kepercayaan kaum LGBT bahwa mereka bisa kembali sembuh.

Yang ketiga adalah membully dan mengancam LGBT dengan hukuman fisik tidak akan menyelesaikan masalah, LGBT adalah penyimpangan orientasi seksual yang muncul akibat lingkungan yang mempengaruhi psikologis seseorang, maka ketika masyarakat merundung bahkan mengancam mereka, akan menimbulkan semacam perasaan depresi yang membuat proses penyembuhan terhadap perilaku seksual menyimpang tersebut tidak dapat dengan mudah dihilangkan.

Pada akhirnya kita tau bahwa perilaku seksual sesama jenis merupakan sebuah kesalahan, sesuatu yang tidak dapat di benarkan, namun kita juga sadar bahwa mereka dibentuk oleh lingkungan yang kita juga berada didalamnya. Maka salah satu cara untuk mencegah persebaranya adalah dengan membuat sebuah lingkungan yang dipenuhi dengan nilai-nilai baik. Kita juga harus ikut menekan media untuk menghentikan penayangan pesan-pesan negatif. Juga tidak menghardik dan merundung keberadaan orang-orang dengan penyimpangan seksual, apalagi sampai melakukan kekerasan fisik. Mereka adalah bagian dari masyarakat dan perlu dikembalikan ke masyarakat dalam keadaan baik. Sama seperti pecandu narkoba, nasehat yang baik dan konsisten akan mengembalikan mereka kepada fitrah mereka sebagai manusia yang mempunyai orientasi seksual normal.

Penulis : (kyh)
Editor : (yst)

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!