OpiniSuara Pembaca

Tutup Komentar, Jangan didengar. BEM kita tidak siap dikritik?

Pada hari Senin (13/8), akun resmi Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Sriwijaya (@bemkmunsri) memposting sebuah gambar bertajuk ucapan Selamat dan Sukses kepada Gubernur Sumsel terpilih. Postingan tersebut memuat gambar Gubernur Sumsel terpilih, H. Herman Deru dan Wakil Gubernur terpilih, Mawardi Yahya yang dinyatakan menang oleh KPU setelah Mahkamah Konstitusi menolak gugatan yang dilayangkan oleh pesaing lainnya. Dalam postingan tersebut juga tertulis ajakan untuk mengawal janji gubernur terpilih 2018-2023.

Postingan ini sontak menimbulkan pro dan kontra dikalangan mahasiswa Universitas Sriwijaya. Postingan ini cukup rancu, postingan ini bisa dianggap bentuk simpatik dan ajakan untuk mengawal janji Gubernur terpilih. Namun tagline yang digunakan pada postingan tersebut tidak lebih dari menunjukkan ucapan selamat dan sukses semata karena ajakan mengawal janji gubernur hanya sebagian kecil dari seluruh mutan postingan. Akhirnya postingan ini menuai beberapa komentar.

Sebelumnya ada 2 akun yang berkomentar di postingan ini, kedua komentar tersebut bernada sedikit menyindir BEM KM Unsri yang dirasa simpatik terhadap hasil PILKADA. Bukannya direspon, BEM KM Unsri malah menutup kolom komentar pada postingan tersebut. Hingga tulisan ini dibuat, kolom komentar pada postingan tersebut masih ditutup.

Apakah yang terjadi pada BEM KM Unsri? Di era digital seperti sekarang ini, media sosial dapat menjadi ajang berbagi, bertukar pikiran, atau bahkan saling lontar kritik pada akun-akun lembaga publik. Tak ayal beberapa akun pejabat negara sering dihiasi kritik terlebih yang berbau sarkas. Akun-akun yang mendapat kritikan pada umumnya berupa akun-akun lembaga publik.

Hal ini sangatlah lumrah karena bermedia sosial adalah jalan untuk membuka kritik dan saran bagi beberapa lembaga publik terlebih instansi pemerintah dan korporasi. Tindakan BEM KM Unsri menutup kolom komentar dipostingan mereka dapat dipersepsikan sebagai upaya menghindari kritik dari berbagai pihak terutama mahasiswa Unsri.

Hal ini lazim dilakukan oleh beberapa akun yang memiliki citra buruk di berbagai media sosial seperti di berbagai akun korporasi yang kerap bersinggungan dengan konsumennya. Tetapi jika hal ini dilakukan oleh lembaga seperti BEM, maka rasanya tidak wajar, karena BEM merupakan lembaga pemerintahan kampus yang artinya merupakan lembaga publik.

Selaku lembaga publik, alih-alih menutup kolom komentar, BEM harusnya membuka pintu seluas-luasnya bagi  kritik dan saran mahasiswa. KM Unsri yang berupa miniatur negara juga menyongsong berbagai kebijakan yang tentu saja setiapnya akan menimbulkan pro dan kontra. Namun BEM selaku lembaga eksekutif tertinggi tidak dapat seenaknya menutup mata atas kritik yang dilontarkan oleh mahasiswa, terlebih lagi hanya komentar melalui media sosial.

Berbanding terbalik saat melihat postingan salah seorang mahasiswa yang mengkritik BEM, namun ramai-ramai para pejabat kampus membalas kritik tersebut di akun komentar mahasiswa ini. Hal yang senada juga bebanding terbalik saat BEM KM Unsri mengkritik kebijakan pemerintah melalui aksi-aksi menggunakan media elektronik seperti sms serentak. Kritik terhadap BEM jangan dianggap sebagai bentuk kebencian, BEM sebagai lembaga publik bukan hanya dimiliki oleh pengurus yang terdapat didalamnya saja, tetapi juga milik seluruh mahasiswa Unsri. Hal ini merupakan social control dari mahasiswa untuk juga mengawal BEM agar tetap berjalan sesuai kaidah yang ada.

Untuk itu BEM seyogyanya sebagai pembuat kebijakan menampung apa yang menjadi tuntutan mahasiswa dan siap dikritik oleh mahasiswa. Mahasiswa yang sejatinya agent of change dan social control juga sepatutnya mencerminkan sikap-sikap layaknya agent of change. Sudah saatnya kita belajar bernegara dan menjadi negarawan di Pemerintahan kampus.

*Opini ini merupakan kiriman dari pembaca dan merupakan tangung jawab pribadi penulis.

Penulis
Agung Prakoso Merupakan Mahasiswa Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *