Opini

Bahaya Covid-19 Intai Tradisi Berbelanja Menjelang Lebaran


“Lebaran sebentar lagi, baju baru belum dibeli”.

Nyanyian nan penuh semangat, dikala menjelang hari raya idul fitri. Perayaan yang disebut pula lebaran oleh masyarakat tanah air begitu dirindukan setiap tahunnya. Kerinduan akan momen lebaran tergambar jelas dengan segala keriuhan perayaan bagi umat muslim di seluruh dunia tersebut.

Tak ayal, bila kebanyakan dari masyarakat Indonesia dengan keragaman budayanya, memanfaatkan momen lebaran untuk melakukan berbagai tradisi yang dimiliki. Seperti mudik, berkumpul bersama sanak saudara, melakukan takbiran keliling sembari menyusuri jalanan dan diiringi tabuhan beduk, berbelanja keperluan lebaran, serta masih banyak lainnya.

Berbicara soal belanja keperluan menjelang hari lebaran, sudah menjadi sesuatu yang paling diminati oleh khalayak banyak. Mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak-anak sekalipun akan berbondong-bondong memadati pusat perbelanjaan. Hal utama dan paling utama yang dilakukan saat mendatangi pusat perbelanjaan ialah mencari pakaian baru untuk digunakan saat lebaran. Jenis pakaian yang dicari pun beragam, mulai dari pakaian muslim untuk salat dan ada pula pakaian jadi yang akan dikenakan saat bertandang ke rumah tetangga maupun rumah kerabat.

Tak sampai di situ saja, ibu-ibu sebagai subjek paling dominan dalam tradisi kali ini, akan berbelanja berbagai keperluan lainnya seperti kue, bahan makanan dan bumbu-bumbu. Hal itu dilakukan semata-mata untuk persedian menjamu para tetamu yang nantinya berdatangan. Keinginan berbelanja sepuasnya menjelang lebaran tak lagi nampak seperti suatu kebutuhan saja, melainkan sebagai sesuatu yang hedonistik dan tuntutan gaya hidup bermasyarakat yang terpatri secara turun-temurun.

Namun, perlu diketahui bahwa tradisi berbelanja saat menjelang lebaran di tengah pandemi Covid-19 tidaklah tepat rasanya. Tradisi ini dapat saja dilangsungkan, dengan catatan pembeli hanya diwakilkan oleh satu atau dua orang untuk satu keluarga. Di samping itu, penjual pun mempunyai peran dalam mengendalikan pembelinya agar tak adanya tumpukan kerumunan. Mengingat bahwasanya sejumlah daerah sedang melakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sebagai upaya mencegah penyebaran yang tak ada hentinya. Bila pusat keramaian seperti mall dan pasar tradisional lainnya dipenuhi oleh jubelan pembeli dan pedagang, hanya akan membuat PSBB yang telah diterapkan menjadi sia-sia saja.

Adanya upaya pelonggaran PSBB rasanya pun kian memperparah keadaan. Walaupun pada dasarnya, alasan pelonggaran ditetapkan karena angka penyebaran yang mulai menurun. Tetapi, berkaca dari PSBB yang dijalankan secara ketat saja, masih banyak ditemukan masyarakat yang tak mematuhinya. Apalagi, bila diberi pelonggoran yang berarti memberikan kebebasan, akan memicu banyak orang semakin acuh-tak acuh.

Selain itu, belakangan pun mencuat bahwa klaster baru ditemukannya penyebaran pandemi ini, tidak lain tidak bukan adalah pusat perbelanjaan atau pasar. Kerumunan yang menyebabkan desakan di dalam pasar, akan membuat virus corona tertawa dan bergembira. Ditambah lagi, dengan tidak sama sekali diterapkannya protokol kesehatan dan anjuran jaga jarak, hanya akan menjerumuskan diri ke dalam kerumunan yang tak diketahui pasti semuanya bebas dari virus atau tidak. Sehingga, penting untuk semuanya mewaspadai bahaya penyebaran Covid-19 menjelang lebaran. Jangan sampai hasrat yang menggebu-gebu dalam menyambut perayaan lebaran, membuat lupa akan pentingnya kesehatan dan keselamatan disituasi yang sedang tidak baik-baik saja.

Penulis : Juniancandra Adi Praha

Editor: Desi Rahma Sari

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!