Opini

Apa Kabar Ratifikasi FCTC Indonesia?

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im, sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Penggalan puisi Tuhan Sembilan Senti goresan tangan Taufik Ismail seketika terbesit di benak saya saat melihat beberapa poster peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di linimasa. Banyak sekali Pro-Kontra yang lahir dari hari peringatan ini, ada yang bersikeras menyetujui, ada yang menolak dengan sepenuh hati, ada juga yang belum memahami muara dari hari peringatan ini. Ya, manusia memang beragam, seperti lagu anak Balonku Ada Lima; Rupa-rupa warnanya.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia atau World No Tobacco Day pertama kali diperkenalkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 31 Mei 1989. Tujuannya adalah untuk mendorong masyarakat agar mengurangi atau menghentikan konsumsi tembakau dalam bentuk apapun, terutama rokok.

WHO membuat sebuah perjanjian internasional perihal kerangka kerja pengendalian tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Fungsi dari FCTC ini sendiri adalah untuk membatasi dan mengontrol penyebaran produk tembakau seperti rokok. FCTC dibentuk guna melindungi generasi saat ini dan yang akan datang dari dampak buruk konsumsi tembakau bagi kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Tahukah kamu? Dilansir dari kompas.com, Dina Kania selaku perwakilan WHO di Indonesia dalam seminar Pengendalian Tembakau mengatakan bahwa, Indonesia merupakan salah satu negara yang belum meratifikasi FCTC, bahkan menjadi satu-satunya negara di Asia Pasifik yang menolak FCTC. Saat ini Indonesia menjadi satu dari tujuh negara di dunia yang tidak meratifikasi FCTC. Enam negara lain  yang tidak menyepakati FCTC adalah Somalia, Sudan Selatan, Malawi, Andorra, Republik Dominika, dan Monako. Kondisi ini dianggap membuat Indonesia menjadi pasar utama bagi perusahaan-perusahaan rokok besar dari negara lain. Indonesia dapat menjadi pasar andalan bagi perusahaan rokok luar negeri setelah di negara asalnya karena perusahaan tersebut tidak lagi bebas memproduksi dan memasarkan produknya.

Berkaca dari puisi buah tangan Taufik Ismail tadi, Indonesia bisa jadi Cigarette heaven, karena tidak punya aturan ketat saat negara-negara lain sudah meratifikasi FCTC. “Kesuksesan” bisnis rokok di negeri ini terlihat dari bebasnya produk yang beredar di pasaran, juga banyaknya perokok di kalangan anak-anak, remaja, hingga dewasa. Realitas yang kerap kali mengiris hati saya *tidak lebay adalah ketika anak-anak begitu lihai mengapitkan “Tuhan Sembilan Senti” di jarinya.

Berdasarkan dari WHO, tembakau bertanggung jawab atas lebih dari 30 penyakit. Mulai dari kanker, jantung, hingga radang sendi. Kerugian yang ditimbulkan akibat rokok pun cukup besar. Bukan hanya masalah kesehatan, berdasarkan penelitian dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia mengalami kerugian sebesar Rp 500 Triliun pertahun atau seperempat dari dana APBN.

Ada beberapa gerakan yang mendukung pemerintah untuk segera meratifikasi FCTC, seperti Gerakan Muda FCTC hingga Aktivis Koalisi Warga untuk Jakarta Bebas Asap Rokok. Pembicara Gerakan Muda FCTC, Margianta Suharman Juhanda Dinata mengatakan bahwa anak muda Indonesia sudah ditargetkan secara masif oleh industri rokok melalui kegiatan-kegiatan berkedok positif seperti konser musik, beasiswa pendidikan, film, dan kegiatan olahraga seperti audisi bulutangkis. Sungguh bagaimana industri rokok telah merayu anak muda Indonesia selama bertahun-tahun, bahkan menjadikan anak muda Indonesia sebagai target dari pemasarannya.

Berdasarkan Laporan US Surgeon General 2015, promosi hingga sponsor rokok dapat mempengaruhi pikiran anak-anak dan pemuda untuk merokok. Beberapa diantaranya adalah menciptakan kesan adalah hal biasa, mendorong perokok untuk meningkatkan konsumsi rokoknya, dan mengurangi motivasi perokok untuk berhenti merokok.

Saya pun pernah membaca Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 perihal jumlah prevalensi perokok anak yang meningkat dari 7.8% di tahun 2013 menjadi 9,1% di tahun 2018, atau sekitar 7,8 juta anak Indonesia. Tingginya angka tersebut menjadi sebuah kekhawatiran bagi saya pribadi, apalagi Indonesia kini tengah berupaya untuk mempersiapkan pencapaian Bonus Demografi serta Indonesia Emas 2045. Saya khawatir upaya Indonesia dalam menghadapi Bonus Demografi dan Indonesia Emas 2045 terancam gagal karena kualitas penduduk usia produktif yang menurun.

Heu.. Mengerikan, semoga hal tersebut hanya kekhawatiran saya semata dan jangan sampai menjadi nyata. Saya berharap, kita semua untuk lebih waspada terhadap rayuan-rayuan industri rokok dan menumbuhkan rasa cinta terhadap diri sendiri untuk menghindari bahaya yang ada dalam “Tuhan Sembilan Senti”.

Sebenarnya FCTC mempunyai tujuan yang arif, yakni untuk melindungi generasi masa kini dan masa mendatang dari dampak konsumsi rokok dan paparan asapnya. Wah.. Lantas mengapa Indoneia belum meratifikasi FCTC? Bagaimana pendapatmu?

Penulis: Annisa Dwi Kurnia

Editor: Desi Rahma S

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *