Opini

Ancaman Plagiarisme di Mimbar Akademis

Plagiarisme merupakan sebuah kejahatan intelektual di dunia akademis. Sederet dugaan kasus plagiarisme bahkan melibatkan oknum pejabat struktural atau fungsional pada sebuah perguruan tinggi terkemuka. Istilah plagiarisme bersumber dari kata dasar plagiat yang diafiksasi dengan sebuah sufiks “-isme”.

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka (1) Permendiknas Nomor 7 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi, plagiat merupakan perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.

Sedangkan menurut Maguna Eliastuti dan Sangaji Niken Hapsari (2018), pengimbuhan sufiks “-isme” pada sebuah kata benda umumnya dapat dimaknai sebagai bentuk penegasan atas sebuah keadaan yang terkait dengan kata benda tersebut. Sehingga dapat didefinisikan secara sederhana bahwa plagiarisme merupakan keadaan dimana terdapat seorang atau lebih melakukan pengakuan terhadap sebagian dan/atau seluruh karya ilmiah milik orang lain seolah-olah sebagai karya ilmiahnya.

Bibit Plagiat

Permulaan perilaku plagiat pada seorang individu dalam praktiknya akan berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Pada jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), tidak jarang terdapat oknum peserta didik yang secara sadar mengerjakan tugas rumahnya dengan cara menyalin tugas rumah milik peserta didik lainnya. Meskipun bentuknya adalah tugas rumah dan tidak spesifik mengarah pada sebuah karya ilmiah, perilaku tersebut secara tidak langsung mampu mengilustrasikan bahwa tindakan pengakuan terhadap karya milik orang lain telah dilakukan oleh oknum peserta didik.

Pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti sekolah menegah atas dan pendidikan tinggi, pembuatan karya tulis ilmiah atau makalah merupakan sebuah kelaziman untuk menjadi tugas bagi peserta didik. Namun kemajuan teknologi dewasa ini justru dimanfaatkan secara tidak benar oleh oknum peserta didik untuk memenuhi tugas pembuatan karya tulis ilmiah atau makalah tersebut. Salah satu bentuk perilaku buruk tersebut tervisualisasi dimana oknum peserta didik menyalin karya tulis ilmiah milik orang lain yang dipublikasikan secara daring, lalu kemudian mengakuinya sebagai karyanya kepada guru mata pelajaran atau dosen pengampu mata kuliahnya.

Hal ini secara umum dilatarbelakangi oleh orientasi yang dimiliki oleh oknum peserta didik untuk mendapatkan penilaian ataupun sekadar memenuhi tugas sekolah atau kuliahnya. Sehingga terkadang terjadi pergeseran sikap dari peserta didik untuk memahami esensi dari sebuah tugas sekolah atau kuliah. Meskipun terdapat guru atau dosen yang dapat mendeteksi dan menindak tegas perilaku ini, tidak jarang juga terdapat oknum guru atau dosen yang cenderung mengabaikan. Sehingga masih belum maksimal dan seragamnya respon guru atau dosen dalam menyikapi perilaku tersebut akan tetap memberikan ruang bagi oknum peserta didik lainnya untuk mengulangi perilaku buruk yang serupa di kemudian hari.

Demi Penghargaan

Pada jenjang pendidikan tinggi yang mewajibkan penulisan tugas akhir seperti skripsi atau karya ilmiah, perilaku plagiat yang telah membibit pada oknum peserta didik pada jenjang sebelumnya akan memperbesar peluang bagi oknum peserta didik untuk mengulangi perilaku serupa dalam menunaikan kewajibannya untuk melakukan pembuatan skripsi atau karya ilmiahnya.

Perilaku plagiat termodifikasi setidaknya dalam dua tipologi. Tipologi yang pertama adalah perilaku plagiat yang hanya melibatkan oknum peserta didik. Dalam tipologi pertama ini, perilaku plagiat dilakukan oleh oknum peserta didik dengan menjiplak atau menyadur sebagian dan/atau seluruh skripsi atau karya ilmiah milik orang lain. Sedangkan tipologi yang kedua adalah perilaku plagiat dimana oknum peserta didik melibatkan peranan pihak ketiga. Perilaku plagiat ini dilakukan oknum peserta didik dengan menggunakan jasa pihak ketiga untuk melakukan pembuatan skripsi atau karya ilmiahnya. Meskipun pihak ketiga tidak melakukan perilaku plagiat terhadap karya ilmiah orang lain, tindakan ini telah mendudukan oknum peserta didik untuk kembali melakukan pengakuan terhadap karya ilmiah yang dibuat oleh pihak ketiga sebagai karya ilmiah miliknya.

Bahkan, kedua tipologi perilaku plagiat di atas dapat juga dilakukan oleh oknum peserta didik pada jenjang studi magister dan doktoral. Sehingga tak jarang, demi mencapai gelar magister atau doktoralnya atau penghargaan publik terhadap sisi akademisnya membuat banyak dari oknum yang telah memiliki jabatan tinggi untuk turut melakukan perilaku plagiat tersebut.

Keluhuran Ilmu

Pada akhirnya, ilmu yang sejatinya yang dapat mendudukan manusia sebagai manusia yang bermanfaat dan untuk memanusiakan manusia justru telah disimpangkan dengan adanya perilaku plagiat tersebut. Oleh karena itu, pengembangan ilmu pengetahuan harus didasarkan dengan sebuah kejujuran dan keikhlasan untuk menjadikannya sebagai jalan luhur melakukan ibadah.

Menghilangkan egoisme demi mencapai penghargaan publik menjadi salah satu cara ampuh untuk memudarkan perilaku plagiat dari mimbar akademis. Perilaku plagiat bagaikan duri dalam daging yang hanya akan memberikan dampak kemunduran bagi pengembangan kualitas intelektual di Indonesia. Keyakinan bahwa ilmu adalah luhur sifatnya, maka perilaku plagiat hanyalah noda yang akan melunturkan keluhuran ilmu dan prinsip kejujuran yang dijunjung tinggi oleh para pendahulu pejuang pendidikan.

Penulis: Kristianus Jimy Pratama (Peneliti Hukum Social Sciences and Humanities Research Association)

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!