Artikel

26 Agustus, Mengulik Luka Lama dari Kenangan Indonesia

Salah satu aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) pada masa Orde Baru (Orba), namanya Widji Thukul. Widji Thukul lahir di Solo 57 tahun silam tepatnya pada 26 Agustus 1963 dengan nama lahir Widji Widodo.

Selain aktif sebagai seorang aktivis HAM, beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan Indonesia. Kata-kata yang ia rangkai dalam puisinya begitu apik sampai bisa membakar semangat semua orang yang mendengarnya, dengan bakat inilah pemerintah Orba bahkan mengganggap beliau berbahaya kala itu. Sebab mengkritik dan mengkritisi pemerintah merupakan bagian dari pemberontakan sedangkan di dalam penggalan puisi Widji Thukul begitu banyak kritik ketidak setujuan dengan Pemerintah.

Bahkan penggalan kata beliau masih marak digunakan hingga kini. Teringat jelas penggalan kalimat ‘Hanya ada satu kata:Lawan’. Kata-kata tersebut sukses membakar semangat membara setiap orang, dengan hal inilah tidak bisa dipungkiri lagi jika Widji Thukul memanglah penyair aktivis yang berbahaya dan cukup meresahkan rezim Orba.

Thukul, selaku Ketua Jaringan Kesenian Rakyat (Jaker) yang dekat dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD) pernah menjadi penggerak perlawanan demostrasi 11 Desember 1995 dengan masa lebih dari 15 ribu buruh pabrik garmen PT Sri Rejeki Isman (Sritex) di Desa Jetis, Sukoharjo, Solo, untuk berhenti kerja sejak pagi. Para buruh menuntun agar adanya kenaikan gaji, karena gaji sebelumnya dianggap tidak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan. Akibat peritiwa ini Thukul harus mengalami luka parah di mata kanannya, karena dihajar oleh aparat ketika memprotes PT Sritex bersama para karyawannya.

Bukan hanya itu saja Thukul juga tercatat pernah ikut serta dalam demonstrasi menentang pencemaran lingkungan oleh sebuah pabrik tekstil, PT. Sariwarna Asli Solo pada tahu 1992.

Berlanjut tahun 1994, terjadi aksi massa petani di Ngawi, Jawa Timur. Kala itu Thukul sebagai pemimpin massa aksi dipukuli aparat militer pada saat tengah melakukan orasi di depan massa aksi.

Sebelum aksi 1994 tepatnya 1993 Thukul bersama rekannya berhasil Membentuk perkumpulan atau organisasi bernama Jaringan kerja (Jaket) hingga akhirnya pada 1996 Thukul menggabungkan Jaker dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD).

PRD dibubarkan pada tahun yang sama saat Jaker bergabung, penyebanya karena PRD dianggap sebagai dalang kerusuhan dalam aksi pengambil alihan secara paksa gedung partai Demokrasi Indonesia (PDI). Akibat peritiwa ini juga para aktivis yang bergabung di PRD di tangkap, diculik bahkan ada yang dihikangkan secara paksa.

Beberapa sumber menyebutkan Thukul berhasil melarikan diri dari peritiwa penangkapan tersebut dengan cara menyamar. Sejak saat itu beliau hidup dengan berpindah-pindah tempat.

Hingga Pada 27 Juli 1998 Widji Thukul menghilang dan belum ditemukan sampai kini bersama belasan aktivis lainnya. Peristiwa menghilangnya Thukul dilaporkan pada tahun 2000 oleh sang istri ke Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KONTRAS).

Kalau teman-temanmu tanya
Kenapa bapakmu dicari-cari polisi
Jawab saja:
“Karena bapakku orang berani”

Melihat jejak perjuangannya Widji Thukul memang pantas dikatakan pejuang Orba dengan sisi kata-kata bersyair semangat. Selamat ulang tahun bapak pejuang HAM dimanapun keberadaanmu semoga akan menjadi tempat terindah untukmu. Tepat, hari ini, 26 Agustus 2020 Indonesia kembali mengulik luka lama dari kenangan sejarah yang belum tuntas.

Penulis: Fatmawati
Editor: Desi Rahma Sari

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
error: Content is protected !!